Jumat, 18 Mei 2018

QS. Al-A’raf :164 Pendidikan Sebagai Bentuk Amar Ma’ruf Nahi Munkar



Pendidikan Sebagai  Bentuk Amar Ma’ruf Nahi Munkar
(With guns, you can kill terrorist; with education you can kill terrorism)

Malala Yousafzai


وَإِذْ قَالَتْ أُمَّةٌ مِنْهُمْ لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا ۙ اللَّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا ۖ قَالوا مَعْذِرَةً إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ ُ   
Artinya:
   Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: "Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?" Mereka menjawab: "Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa.(Qs. Al-A’raf :164)
            مَعْذِرَةً إِلَىٰ رَبِّكُمْ
Menurut tafsir Ibnu Katsir, sebagian ulama membacanya rafa’, seakan-akan makna yang dimaksud ialah "sikap ini merupakan pelepas tanggung jawab kepada Tuhan kalian." Sedangkan ulama lainnya membacanya nasab yang artinya "Kami sengaja melakukan ini untuk pelepas tanggung jawab kepada Tuhan kalian." Dengan kata lain, janji yang telah ditetapkan Allah atas diri kami untuk menjalankan amar ma 'ruf dan nahi munkar.
وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ
Mereka mengatakan, “Mudah-mudahan dengan adanya protes ini mereka menjadi takut terhadap perbuatan mereka dan mau menghentikannya, serta mau kembali bertobat kepada Allah. Apabila mereka bertobat kepada Allah, niscaya Allah menerima tobat mereka dan merahmati mereka”.
Analisis ayat:
            Penggalan ayat diatas saya garis bawahi sebab mengandung makna pendidikan dalam konteks menasehati, dalam kata lain menasehati berarti memberi pengajaran. Pengajaran yang dimaksud yaitu mengajak hal untuk berbuat baik, dan mencegah berbuat yang munkar. Karena didalam nasehat berisikan ajaran ajaran yang baik yaitu seruan untuk bertaqwa kepada Allah. Pendidikan tidak saja melulu kita dapat dalam sebuah lembaga. Membaca misalnya salah satu upaya sederhana mencegah kebodohan. Dengan membaca kita tidak lagi fakir ilmu, yang menyebabkan memperkaya akan informasi. Jika dihubungkan dengan isu terkini, yaitu Aksi Terorisme yang Berselimut Agama, namun saya tidak setuju dengan hal tersebut. Tidak ada satupun ajaran agama yang memerintahkan umatnya untuk menjadi teroris. Jadi teroris tidak punya agama.
Melawan Teroris Bukan Dengan Senjata Namun Dengan Pendidikan
With guns, you can kill terrorist; with education you can kill terrorism. Salah satu ungkapan Malala Yousafzai, aktivis perempuan dari Pakistan. Malala menjadi perempuan pertama yang menerima National Youth Peace Prize dari negaranya. Dari kutipan tersebut Teroris memang bisa dilumpuhkan dengan todongan senjata, tapi paham terorisme tidak akan lenyap hanya dengan satu peluru, sekalipun serangan nuklir untuk menyerangnya. Hal ini terbukti dalam kasus penyerangan ISIS di Mako Brimob, meskipun para napi teroris diamankan dalam jeruji sel. Mereka tetap mengadakan halaqoh atau kajian kecil dan tanya jawab mengenai masalah kaidah, tentu saja pengajian itu bernafaskan paham-paham radikalisme. Mereka tetap mendoktrin satu sama lain untuk berjihad. mereka ingin membunuh polisi yang dianggap thogut sehingga menghalangi ajaran Allah di Indonesia. Tidak berhenti dalam kasus tersebut, pada tanggal 13 mei 2018 terjadi serangan bom berderet di tiga gereja kota Surabaya, di telisik pelakunya yaitu satu keluarga. Belum usai 24 jam. Terjadi kembali ledakan bom di rusunawa Taman Sidoarjo pada malam harinya. Diketauhi dari kasus kasus tersebut yaitu ulah para golongan ISIS yang mengatasnamakan jihad untuk membunuh sesama manusia.    
Dari beberapa sumber informasi, diketahui banyak anggota teroris yang direkrut sejak usia mereka masih sangat muda. Isolasi dan keterbatasan informasi membuat mereka menganggap bahwa apa yang mereka percayai adalah suatu hal yang absolute. meskipun itu salah. Membunuh adalah satu-satunya cara untuk mencapai kedamaian. Meledakkan bom di tempat ibadah agama lain adalah satu-satunya cara untuk mencapai surga. Mengancam keselamatan orang banyak itu harus dilakukan jika masyarakat ingin berubah ke arah yang lebih baik.
Terorisme berawal dari ketidaktahuan dan minimnya informasi mengenai keberagaman. Orang-orang yang terjerat ke dalam jaringan tersebut sesungguhnya juga merupakan korban. Korban dari tindakan isolasi dan pencucian otak yang membuat mereka berpikir bahwa mereka dan golongannya adalah yang terbaik. Sederhananya  orang yang tidak sepaham dengan mereka, sudah sepatutnya dimusnahkan.
Mereka mempunyai trik yaitu sebelum bom dirakit, sebelum pelatuk ditarik, ada hal yang sudah lebih dulu mati yaitu akal sehat dan hati nurani.
Jadi, senjata apa yang paling tepat dipilih? Pendidikan jawabannya. Karena mereka takut pada perubahan, takut pada kesetaraan, takut akan keberagaman, yang akan dibawa pendidikan ke dalam masyarakat kita. Tidak hanya di sekolah, tapi nilai-nilai toleransi, empati, dan keberagaman pun harus juga diterapkan di luar sekolah. Pancasila bukan sekedar pajangan yang disandingkan dengan foto presiden dan wakil presiden di atas papan tulis di dalam ruang kelas. Sila pertamanya jangan sampai membuat kita lupa bahwa masih ada sila kedua, ketiga, keempat, dan kelima. Indonesia adalah negara yang adil dan beradab, untuk itu mari kita lawan radikalisme bersama sama dengan semangat mengenyang pendidikan setinggi-tingginya.
.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

QS. Al-A’raf :164 Pendidikan Sebagai Bentuk Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Pendidikan Sebagai   Bentuk Amar Ma’ruf Nahi Munkar (With guns, you can kill terrorist; with education you can kill terrorism) Malala ...