Pendidikan Sebagai Bentuk Amar Ma’ruf Nahi Munkar
(With guns, you
can kill terrorist; with education you can kill terrorism)
Malala Yousafzai
وَإِذْ قَالَتْ
أُمَّةٌ مِنْهُمْ لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا ۙ اللَّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ
مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا ۖ قَالوا
مَعْذِرَةً إِلَىٰ رَبِّكُمْ
وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ ُ
Artinya:
Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: "Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?" Mereka menjawab: "Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa”.(Qs. Al-A’raf :164)
Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: "Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?" Mereka menjawab: "Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa”.(Qs. Al-A’raf :164)
Menurut tafsir
Ibnu Katsir, sebagian ulama
membacanya rafa’, seakan-akan makna yang dimaksud ialah
"sikap ini merupakan pelepas tanggung jawab kepada Tuhan kalian." Sedangkan
ulama lainnya membacanya nasab yang artinya "Kami sengaja
melakukan ini untuk pelepas tanggung jawab kepada Tuhan kalian." Dengan
kata lain, janji yang telah ditetapkan Allah atas diri kami untuk
menjalankan amar ma 'ruf dan nahi munkar.
وَلَعَلَّهُمْ
يَتَّقُونَ
Mereka
mengatakan, “Mudah-mudahan dengan adanya protes ini mereka menjadi takut
terhadap perbuatan mereka dan mau menghentikannya, serta mau kembali bertobat
kepada Allah. Apabila mereka bertobat kepada Allah, niscaya Allah menerima
tobat mereka dan merahmati mereka”.
Analisis ayat:
Penggalan ayat
diatas saya garis bawahi sebab mengandung makna pendidikan dalam konteks
menasehati, dalam kata lain menasehati berarti memberi pengajaran. Pengajaran
yang dimaksud yaitu mengajak hal untuk berbuat baik, dan mencegah berbuat yang
munkar. Karena didalam nasehat berisikan ajaran ajaran yang baik yaitu seruan
untuk bertaqwa kepada Allah. Pendidikan tidak saja melulu kita dapat dalam
sebuah lembaga. Membaca misalnya salah satu upaya sederhana mencegah kebodohan.
Dengan membaca kita tidak lagi fakir ilmu, yang menyebabkan memperkaya akan
informasi. Jika dihubungkan dengan isu terkini, yaitu Aksi Terorisme yang
Berselimut Agama, namun saya tidak setuju dengan hal tersebut. Tidak ada
satupun ajaran agama yang memerintahkan umatnya untuk menjadi teroris. Jadi
teroris tidak punya agama.
Melawan Teroris Bukan Dengan Senjata
Namun Dengan Pendidikan
With
guns, you can kill terrorist; with education you can kill terrorism. Salah
satu ungkapan Malala Yousafzai, aktivis perempuan dari Pakistan. Malala menjadi perempuan pertama yang
menerima National Youth Peace Prize dari negaranya. Dari kutipan tersebut Teroris
memang bisa dilumpuhkan dengan todongan senjata, tapi paham terorisme tidak akan
lenyap hanya dengan satu peluru, sekalipun serangan nuklir untuk menyerangnya. Hal
ini terbukti dalam kasus penyerangan ISIS di Mako Brimob, meskipun para napi
teroris diamankan dalam jeruji sel. Mereka tetap mengadakan halaqoh atau kajian
kecil dan tanya jawab mengenai masalah kaidah, tentu
saja pengajian itu bernafaskan paham-paham radikalisme. Mereka
tetap mendoktrin satu sama lain untuk berjihad. mereka ingin membunuh polisi
yang dianggap thogut sehingga menghalangi ajaran Allah di Indonesia. Tidak
berhenti dalam kasus tersebut, pada tanggal 13 mei 2018 terjadi serangan bom
berderet di tiga gereja kota Surabaya, di telisik pelakunya yaitu satu
keluarga. Belum usai 24 jam. Terjadi kembali ledakan bom di rusunawa Taman
Sidoarjo pada malam harinya. Diketauhi dari kasus kasus tersebut yaitu ulah
para golongan ISIS yang mengatasnamakan jihad untuk membunuh sesama manusia.
Dari beberapa sumber informasi,
diketahui banyak anggota teroris yang direkrut sejak usia mereka masih sangat
muda. Isolasi dan keterbatasan informasi membuat mereka menganggap bahwa apa
yang mereka percayai adalah suatu hal yang absolute. meskipun itu salah.
Membunuh adalah satu-satunya cara untuk mencapai kedamaian. Meledakkan bom di
tempat ibadah agama lain adalah satu-satunya cara untuk mencapai surga.
Mengancam keselamatan orang banyak itu harus dilakukan jika masyarakat ingin
berubah ke arah yang lebih baik.
Terorisme berawal dari
ketidaktahuan dan minimnya informasi mengenai keberagaman. Orang-orang yang
terjerat ke dalam jaringan tersebut sesungguhnya juga merupakan korban. Korban
dari tindakan isolasi dan pencucian otak yang membuat mereka berpikir bahwa
mereka dan golongannya adalah yang terbaik. Sederhananya orang yang tidak sepaham dengan mereka, sudah
sepatutnya dimusnahkan.
Mereka mempunyai trik yaitu sebelum
bom dirakit, sebelum pelatuk ditarik, ada hal yang sudah lebih dulu mati yaitu
akal sehat dan hati nurani.
Jadi,
senjata apa yang paling tepat dipilih? Pendidikan jawabannya. Karena mereka
takut pada perubahan, takut pada kesetaraan, takut akan keberagaman, yang akan
dibawa pendidikan ke dalam masyarakat kita. Tidak hanya di sekolah, tapi
nilai-nilai toleransi, empati, dan keberagaman pun harus juga diterapkan di
luar sekolah. Pancasila bukan sekedar pajangan yang disandingkan dengan foto
presiden dan wakil presiden di atas papan tulis di dalam ruang kelas. Sila
pertamanya jangan sampai membuat kita lupa bahwa masih ada sila kedua, ketiga,
keempat, dan kelima. Indonesia adalah negara yang adil dan beradab, untuk itu
mari kita lawan radikalisme bersama sama dengan semangat mengenyang pendidikan
setinggi-tingginya.
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar