Sabtu, 10 Maret 2018

RESUME BUKU PSIKOLOGI AGAMA ZAKIYAH DARADJAT


BAGIAN 1
1.      Pengertian Tentang Ilmu Jiwa
Ilmu jiwa agama, berbeda berbeda dari cabang-cabang ilmu jiwa yang lainnya, karena ia terpaksa disangkutkan kepada dua bidang pengetauhan yang berlainan sama sekali. Sebagiannya harus tunduk kepada agama dan sebagian lainnya tunduk kepada ilmu jiwa. Ilmu jiwa agama meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku, tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalam kontruksi kepribadiannya.

2.      Lapangan Penelitian Ilmu Jiwa Agama
Tugas dan bidang penelitian ilmu jiwa agama adalah mempelajari kesadaran agama pada orang. Akan tetapi kesadaran agama itu tidak dapat diteliti sendirian, tanpa meneliti pula pengaruhnya terhadap kelakuan atau tindak agama orang dalam hidupnya.
3.      Metode Penelitian Dalam Ilmu Jiwa Agama
Metode yang digunakan penelitian-penelitian ilmu jiwa agama adalah metode ilmiah, yakni mempelajari fakta-fakta yang berada dalam lingkungannya, dengan cara yang yang obyektif.
4.      Sejarah Perkembangan Ilmu Jiwa Agama
Mula-mula berani mengemukakan hasil penelitiannya secara ilmiah tentang agama adalah Frazer dan Taylor. Mereka membentangkan bermacam-macam agama primitif dan menemukan persamaan yang sangat jelas antara berbagai bentuk ibadah pada agama kristen dan ibadah orang-orang primitif. Hasil penelitian mereka telah membangkitkan perhatian ahli-ahli untuk memandang agama sebagai suatu aspek kehidupan manusia yang dapat diteliti dan dipelajari seperti aspek-aspek lainnya dalam kehidupan manusia. Maka mulailah ilmu jiwa mengumpulkan bahan-bahan yang dikemukakan oleh ahli-ahli jiwa tersebut, ditambah pula dengan meneliti riwayat hidup dan hasil karya ahli-ahli tasawuf dan ulama ulama terkenal.
Dapat dikatan bahwa pendekatan ilmiah dalam ilmu jiwa agama dimulai pada tahun 1881, ketika G. Stanley Hall sebagai salah seorang ahli Ilmu Jiwa di masa itu, mempelajari peristiwa konversi agama dan remaja.

Edwin Diller Starbuck
Starbuck adalah seorang murid dari William James. Sksn tetapi dalam bidang ilmu jiwa agama ia melampaui gurunya. Karena ketika bukunya tersebut di atas terbit, yang berjudul The Psychology of Religion, An Empirical Study of the Growth of Religius Consiusnesss. Yaitu buku yang mengupas pertumbuhan perasaan agama pada orang. Penelitian William James belum mendalam dan belum berkembang dalam bidang itu. Karena itu dapat dikatan bahwa perhatian timbul dan berkembang karena hasil karya muridnya.

James H. Leuba
Leuba juga termasuk salah seorang yang pertama-tama meneliti agama dari segi ilmu jiwa, berapa tahun lamanya ia mengajar pada Bryan Mawr Collage. Dia mempunyai pandangan obyektif sehingga ia berusaha keras untuk menjauhkan ilmu jiwa agama dari unsur-unsur kepercayaan, yang tidak dapat dilakukan padanya percobaan-percobaan ilmiah atau pemikiran logis.

Stanley Hall
Stanley Hall juga menggunakan cara-cara yang sama dengan leuba dalam menenrangkan fakta-fakta yang agamis, yaitu dengan tafsiran agama, terutama mengenai peristiwa konversi pada remaja dengan menggunakan angket dan statistik.

Medical Materialism
Di antara usaha-usaha yangberlebih-lebihan dalam menerangkan fakta-fakta agamis secara fisik adalah Theory Medical Materialism, dimana mereka memandang keadaan jiwa dan fikiran sebagai ungkapan dari fungsi-fungsi organik, maka keistimewaan orang-orang suci dan tenggelamnya mereka dalam kehidupan rohani, dianggapnya sebagai akibat dari penyakit-penyakit jasmani, misalnya dari kegoncangan sebagian kelenjar-kelenjar atau terjadinya keracunan.

William James
Penelitian William James sebenarnya didasarkan atas catatan-catatan orang-orang yang sadar agama yang mereka rasakan; disamping dokumen-dokumen orang-orang penting dalam agama, baik yang mereka tulis sendiri, maupun yang ditulis oleh orang-orang lain. William James telah berjasa dalam membuka lembaran baru dalam penelitian tentang jiwa agama, hanya sayangnya penelitiannya terbatas kepada ahli-ahli agama, bukan orang biasa.

George M. Stratton
Pada tahun 1911 terbit buku Psycchology of Religious Life. Yang ditulis oleh George M. Stratton. Pendapat yang dikemukakan cukup menarik perhatian, dimana ia berpendapat bahwa sumber agama itu adalah konflik jiwa dalam diri individu.

Fluornoy
Pada tahun 1901 Fluornoy berusaha mengumpulkan semua penelitian psikologis yang pernah dilakukan terhadap agama, sehingga dapat disimpulkannya cara-cara dan metode yang harus digunakan dalam peneliti fakta-fakta tersebut. Di antara prinsip-prinsip pokok yang telah digunakan oleh ahli-ahli sebelumnya, yang oleh Fluornoy dipandang penting guna meneliti fakta-fakta agamis pada seseorang secara psikologis ialah:
a.       Menjauhkan penelitian dari transcendance
b.      Prinsip mempelajari perkembangan
c.       Prinsip perbandingan
d.      Prinsip dinamika
e.       Konverensi Genewa
James B. Pratt
Perkembangan ilmu jiwa agama semakin maju, terutama dengan terbitnya bukunya The Religious Consiusness pada tahun 1920. Beliau sebagai guru besar dalam ilmu filsafat, namun ia pernah mengadakan suatu riset secara impiris ilmiah dalam bidang ilmu jiwa agama.
Rudolf Otto
Di jerman terbit pula buku Das Heilige oleh Rudolf Otto, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa inggris tahun 1923. Yang terpokok dalam buku tersebut adalah pengalaman-pengalam psikologis dari pengertian tentang kesucian, yang diambilnya sebagai pokok dalam hal ini adalah sembahyang. Buku yang cukup menurut zamannya.
Pierre Bovet
Bovet menemukan bahwa pengalaman-pengalaman agamis itu, baik dalam sejarah bangsa-bangsa maupun dalam kehidupan individu, sangat bermacam-macam sehingga apa yang dimaksud dengan agama itu timbul dari sumber-sumber yang bermacam-macam dalam jiwa seseorang. Ia berkesimpulan bahwa agama anak-anak tidak berbeda dari agama orang dewasa.
R.H Thouless
Pada tahun 1922 Thouless kembali mempelajari ilmu-ilmu jiwa agama dengan cara-cara dan dasar-dasar penelitian secara filsafat yang kemudian pada tahun 1923 diterbitkan buku dengan judul ”An Introduction to the Psychology of Religion”, dimana agama dipelajari dari segi psikologis.
Sante de Sanctis
Dia berpendapat bahwa ilmu jiwa agama adalah sebuah usaha untuk memahami tindakan agamis dari seseorang, dilihat dari proses jiwa yang terkenal dalam ilmu jiwa. Dia menentukan bahwa jiwa manusia itu bekerja dalam bidang agama seperti segala segi kegiatan jiwa lainnya.
Teori Psikoanalisa
Aliran psikoanalisa terkenal dengan mendalamnya penganalisaan terhadap kehidupan jiwa manusia sampai kepada alam bawah sadar.
Sigmund Freud
Dalam penelitian terhadap agama, perhatian freud banyak tertumpa kepada aspek-aspek sosial dari agama itu. Misalnya dalam menganalisa agama-agama orang orang primitif, yang diambilnya adalah sembahan Totem dan Taboo. Maka dibuatnya perbandingan perbandingan antara tingkah laku orang orang yang terganggu jiwannya dengan orang-orang primitif, maka ditemuka hubungan antara KompleksOdip dengan upacara agama.
W. H. Clark
Belumlah lengkap kiranya uraian tentang sejarah perkembangan ilmu jiwa agama kalau tidak menyebut Walter Houseton Clark pengarang buku “The Psychology of Religion”, buku yang cukup menarik dan lengkap membawakan proses-proses dan dinamika jiwa agama sejak anak kecil sampai kepada orang dewasa.



BAGIAN 2
5.      Petumbuhan Agama Pada Anak-Anak
Bagaimana Si Anak Mengenal Tuhan?
Anak-anak mulai mengenal Tuhan, melalui bahasa, dari kata-kata yang ada pada lingkungannya, yang pada permulaan diterimannya secara acuh tak acuh saja. Cerita cerita dalam kitab suci dapat menarik perhatian anak-anak, seperti cerita hantu dan sebagainya. Perhatian anak-anak lebih tertuju kepada orang-orang, pemuka-pemuka agama dari dari pada isi ajarannya, dan cerita itu akan lebih menarik jika berhubungan dengan masa anak-anak dari tokoh-tokoh agama itu.

Pentingnya hubungan anak dengan orang tua
Orang tua adalah pusat kehidupan rohani si anak dan sebagai penyebab berkenalannya dengan alam luar, maka setiap reaksi emosi anak dan pemikirannya di kemudian hari, terpengaruh oleh sikapnya terhadap orang tuanya di permulaan hidupnya dahulu. Apabila suatu keluarga jarang pergi ke tempat ibadah, anaknya akan kurang aktif dalam soal agama. Demikianlah anak-anak yang hidup dalam keluarga yang kurang menjalankan agama dalam kehidupannya sehari-hari, maka perhatian anak anak terhadap agama kurang pula. 

Kelahiran dan kematian
Pengertian si anak tentang masalah mati membawa suatu prinsip pikiran yang baru, yaitu prinsip pikiran yang baru, yaitu prinsip sebab-musabab, hal ini membawa kepada sikap baru, yang terlihat bekasnya dalam segala segi, demikian juga terhadap gambaran si anak tentang Tuhan. Sebelum umur 7 tahun, belum ada pikiran si anak tentang tuhan sebab jika ia mengembalikan pada Tuhan apapun yang terjadi karena kemauannya sendiri.  Jadi pikirannya belum mencapai sebab musabab, hanya sebab yang tidak logis, yaitu karena kemauan pribadi tanpa alasan.
Tuhan Sebagai Keharusan Moral Bagi Anak
Sesungguhnya pertumbuhan kesadaran moral pada anak menyebabkan agama anak-anak mendapatkan laporan baru maka bertambahnya pula perhatiannya terhadap nasehat-nasehat agama, dan kitab suci baginya tidak lagi merupakan kumpulan undang-undang yang adil, yang dengan itu Allah menghukum dan mengatur dunia guna menunjuki kita kepada kebaikan.
Allah dan perasaan sosial
Dengan timbulnya sifat-sifat moral bagi agama, tercakup di dalamnya peningkatan rasa sosial, dimana si anak memandang bahwa nilai-nilai agama lebih tinggi dari nilai-nilai keluarga. Di samping itu dapat dirasakan bahwa anak-anak mulai mengerti bahwa agama bukan lah kepercayaan pribadi, atau keluarga, melainkan kepercayaan masyarakat seluruhnya.

6.      Pendidikan Agama Bagi Anak
a.      Pembinaan Pribadi Pada Anak
Tugas pembinaan pribadi anak di sekolah dasar, bukan bukan tugas guru dan agama saja, tapi tugas guru pada umumnya disamping tugas orang tua. Namun peranan para guru agama dalam hal ini sangat menentukan. Guru agama dapat memperbaiki kesalahan yang dibuat oleh orang tua, kemudian bersama guru-guru lain membina pembinaan anak.

b.      Perkembangan Agama Pada Anak
Perkembangan agama pada anak sangat ditentukan oleh pendidikan dn pengalaman yang dilaluinya, terutama pada masa-masa pertumbuhan yang pertama (masa anak) dari umur 0-12 tahun. Seseorang pada masa itu tidak dapat didikan agama dan tidak pula mempunyai pengalam keagamaan, maka ia nanti setelah dewasa akan cenderung bersikap negatif kepada agama.
c.       Pembiasaan Pendidikan Anak
Hendaknya setiap pendidik menyadari bahwa dalam pembinaan pribadi anak sangat diperlakukan pembiasaan-pembiasaan dan latihan-latihan yang sangat cocok dan sesuai dengan perkembangan jiwanya. Karena pembiasaan dan latihan tersebut akan membentuk sikap tertentu pada anak, yang lambat laun sikap itu akan bertambah jelas dan kuat, akhirnya tidak tergoyahkan lagi, karena telah masuk menjadi bagian dari pribadinya.
d.      Beberapa hal yang perlu diingat oleh guru
1)      Guru agama adalah pembina pribadi, sikap dan pandangan hidup anak. Karena itu.
2)      Guru agama harus memahami betul-betul perkembangan jiwa anak, agar dapat mendidik anak dengan cara yang cocok dan sesuai dengn umur.
3)      Pendidikan agama pada umur SD, harus lebih banyak percontohan dan pembiasaan.
4)      Guru harus memahami latar belakang anak yang menimbulkan sikap tertentu pada anak.
7.      Perkembangan Agama Pada Remaja
Pertumbuhan mental remaja
Pertumbuhan pengertian tentang ide-ide agama sejalan dengan pertumbuhan kecerdasan. Pengertian-pengertian tentang hal-hal yang abstrak, yang tidak dapat dirasakan atau dilihat langsung seperti pengertian tentang akhirat, syurga, neraka dll, baru dapat diterima oleh anak-anak apabila pertumbuhan kecerdasannya telah memungkinkan untuk itu. Itulah sebabnya maka seharusnya pengertian-pengertian yang abstrak itu dikurangi, apabila umur remaja belum dicapai oleh si anak.

Masalah mati dan kekekalan
Pada masa remaja telah dapat dipahami bahwa mati itu adalah suatu hal yang tak dapat dihindari oleh setiap diri. Pemikiran remaja tentang mati dalam hal ini adalah terdorong oleh kepentingan emosi yang dirasakannya.

Emosi Dan Pengaruhnya Terhadap Kepercayaan Agama
Keyakinan remaja akan sifat-sifat Tuhan yang banyak itu berubah-ubah sesuai dengan kondisi emosinya, dan ia mengalami keyakinan yang mundur maju. Kadang kadang terasa sekali olehnya kepada Tuhan, terasa dekat dan seolah olah dia berdialog langsung dengan Tuhan. Tetapi kadang-kadang ia merasa jauh tidak dapat memusatkan pikiran waktu berdoa atau sembahyang, itulah ciri khas remaja, yang sedang mengalami kegoncangan emosi.

Perkembangan Moral Dan Hubungannya Dengan Agama
Pembinaan moral, terjadinya melalui pengalaman pengalaman dan kebiasaan, yang ditanamkan sejak kecil oleh orang tua.  Yang mulai dari pembiasaan hidup sesuai dengan nilai-nilai moral, yang ditirunya dari orang-orang tua dan mendapat latihan-latihan untuk itu.

Kedudukan Remaja Dalam Masyarakat Dan Pengaruhnya Terhadap Keyakinannya.
            Remaja cenderung aktif dalam kegiatan kegiatan agama sebenarnya ada dan dapat dipupuk asal lembaga-lembaga keagamaan itu dapat mengikut sertakan remaja-remaja dan memberi kedudukan yang pasti pada mereka.
Sikap remaja terhadap agama
a.       Percaya turut-turutan
b.      Percaya dengan kesadaran
c.       Bimbang
d.      Atheis atau tidak percaya sama sekali.

8.      Perkembangan Jiwa dan Agama Pada Anak dan Remaja 
a.      Pendidikan Agama
Pendidikan agama yang baik, tidak saja memberi manfaat yang bersangkutan, akan tetapi akan membawa keuntungan dan manfaat terhadap masyarakat lingkungannya bahkan bahkan masyarakat ramai dan ummat manusia seluruhnya.
b.      Perkembangan Agama Pada Anak
masa anak-anak 0-12 thn. Masa remaja 13-21 tahun. Masa dewasa 2i tahun katas. Ketiga tahap umur tersebut mempunyai ciri khas masing-masing.
c.       Kanak-Kanak Pada Tahun Pertama (0-6)
Si anak mulai mengenal Tuhan dan agama melaui orang-orang di lingkungan sekitarya tempat mereka tinggal.
d.      Anak-anak pada umur sekolah (6-12)
Semakin besar si anak, semakin bertambah fungsi agama baginya, misalnya pada umur 10 tahun ke atas, agama mempunyaifungsi moral dan sosial bagi anak.
e.       Masa remaja pertama  (13-16)
Disini seseorang mengalami fase goncang, yaitu maju-mundur emosi kedekatan mereka dengan Tuhannya. Disini guru agama berperan penting dalam membimbing ajaran agam disebuah sekolah.
f.        Masa remaja terkahir (17-21)
Disini merupakan fase dimana seorang remaja menuntut kepada agar ajaran yang ia terima masuk akal, dapat dipahami, dapat dirasionalkan. Guru agama berperan penting untuk menjlaskan konflik-konflik tersebut.

9.      Pembinaan Kehidupan beragama Bagi Remaja
a.      Ciri-ciri masa remaja terakhir
1)      Pertumbuhan jasmani cepat telah selesai
2)      Pertumbuhan kecerdasan hampir selesai
3)      Pertumbuhan pribadi belum selesai.
4)      Pertumbuhan jiwa sosial masih berjalan
5)      Keadaan jiwa agama yang tidak stabil
b.      Problem Remaja
1)      Masalah hari depan
2)      Masalah hubungan dengan orang tua
3)      Masalah moral dan agama
c.       Membina kehidupan beragama dalam kampus
1)      Tunjukkanlah bahwa kita membina mereka
2)      Pembinaan secara konsultasi
3)      Dekatkan agama pada hidup
10.  Pembinaan Moral Dan Agama Bagi Generasi Muda
a.      Masalah Kehidupan Moral dan Agama Generasi Muda Dewasa Ini
Dalam hal ini nilai-nilai moral yang akan diambilnya menjadi pegangan, terasa kabur, terutama mereka yang hidup di kota besar dari keluarga yang kurang menghindahkan ajaran agama dan tidak memperhatikan pendidikan agama bagi anak-anaknya.
b.      Bahaya Yang Mungkin Terjadi
Secara umum hambatan itu berbahaya ketika menghambat suatu tujuan, misal malas belajar dll. Maka dihari kemudian masa depan remaja menjadi kabur.
c.       Cara Menghadapi Masalah Itu
1)      Perlu mengadakan saringan atau seleksi terhadap keluar masuknya budaya
2)      Agama dalam sekolah harus intensif
3)      Agar diadakan pendidikan khusus untuk orang dewasa dalam bidang kesehatan jiwa
4)      Perlu adanya biro konsultasi
5)      Dalam kegiatan pembinaan Pemerintah mengambil tindakan khusus untuk mengikut sertakan ulama-ulama
d.      Peranan Wanita Dalam Pembinaan Moral dan Agama Generasi Muda Dewasa  Saat Ini
Wanita merupakan komponen pertama dalam pembinaan moral, khususnya seorang ibu. Karena ibu merupakan pembina pertama bagi anaknya, pendidikan dan perlakuannya menentukan kesehatan jiwa anak di kemudian hari.

11.  Perkembangan Kepercayaan Pada Orang Dewasa
Konversi agama          
Merupakan perubahan keyakinan yang berlawanan arah dengan keyakinan semula.





                                      BIODATA PENULIS


Nama                             : Zakiyah Daradjat
Lahir                              : Agam, 6 oktober 1929 Sumatera Barat
Meninggal                     : Jakarta 15 januari 2013
Pekerjaan                       : Psikolog
Agama                           : Islam
Orang Tua
Ayah                             : Daradjat Husain
Ibu                                 : Rafiah


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

QS. Al-A’raf :164 Pendidikan Sebagai Bentuk Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Pendidikan Sebagai   Bentuk Amar Ma’ruf Nahi Munkar (With guns, you can kill terrorist; with education you can kill terrorism) Malala ...