BAGIAN 1
1. Pengertian
Tentang Ilmu Jiwa
Ilmu jiwa agama, berbeda berbeda dari cabang-cabang ilmu
jiwa yang lainnya, karena ia terpaksa disangkutkan kepada dua bidang
pengetauhan yang berlainan sama sekali. Sebagiannya harus tunduk kepada agama
dan sebagian lainnya tunduk kepada ilmu jiwa. Ilmu jiwa agama meneliti pengaruh
agama terhadap sikap dan tingkah laku, tidak dapat dipisahkan dari
keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalam kontruksi kepribadiannya.
2. Lapangan
Penelitian Ilmu Jiwa Agama
Tugas dan bidang penelitian ilmu jiwa agama adalah mempelajari
kesadaran agama pada orang. Akan tetapi kesadaran agama itu tidak dapat
diteliti sendirian, tanpa meneliti pula pengaruhnya terhadap kelakuan atau
tindak agama orang dalam hidupnya.
3. Metode
Penelitian Dalam Ilmu Jiwa Agama
Metode yang digunakan penelitian-penelitian ilmu jiwa
agama adalah metode ilmiah, yakni mempelajari fakta-fakta yang berada dalam
lingkungannya, dengan cara yang yang obyektif.
4. Sejarah
Perkembangan Ilmu Jiwa Agama
Mula-mula berani mengemukakan hasil penelitiannya secara
ilmiah tentang agama adalah Frazer dan Taylor. Mereka membentangkan
bermacam-macam agama primitif dan menemukan persamaan yang sangat jelas antara
berbagai bentuk ibadah pada agama kristen dan ibadah orang-orang primitif.
Hasil penelitian mereka telah membangkitkan perhatian ahli-ahli untuk memandang
agama sebagai suatu aspek kehidupan manusia yang dapat diteliti dan dipelajari
seperti aspek-aspek lainnya dalam kehidupan manusia. Maka mulailah ilmu jiwa
mengumpulkan bahan-bahan yang dikemukakan oleh ahli-ahli jiwa tersebut,
ditambah pula dengan meneliti riwayat hidup dan hasil karya ahli-ahli tasawuf
dan ulama ulama terkenal.
Dapat dikatan bahwa pendekatan ilmiah dalam ilmu jiwa
agama dimulai pada tahun 1881, ketika G. Stanley Hall sebagai salah seorang
ahli Ilmu Jiwa di masa itu, mempelajari peristiwa konversi agama dan remaja.
Edwin
Diller Starbuck
Starbuck adalah seorang murid dari William James. Sksn
tetapi dalam bidang ilmu jiwa agama ia melampaui gurunya. Karena ketika bukunya
tersebut di atas terbit, yang berjudul The
Psychology of Religion, An Empirical Study of the Growth of Religius
Consiusnesss. Yaitu buku yang mengupas pertumbuhan perasaan agama pada
orang. Penelitian William James belum mendalam dan belum berkembang dalam
bidang itu. Karena itu dapat dikatan bahwa perhatian timbul dan berkembang
karena hasil karya muridnya.
James
H. Leuba
Leuba juga termasuk salah seorang yang pertama-tama
meneliti agama dari segi ilmu jiwa, berapa tahun lamanya ia mengajar pada Bryan
Mawr Collage. Dia mempunyai pandangan obyektif sehingga ia berusaha keras untuk
menjauhkan ilmu jiwa agama dari unsur-unsur kepercayaan, yang tidak dapat
dilakukan padanya percobaan-percobaan ilmiah atau pemikiran logis.
Stanley
Hall
Stanley Hall juga menggunakan cara-cara yang sama dengan
leuba dalam menenrangkan fakta-fakta yang agamis, yaitu dengan tafsiran agama,
terutama mengenai peristiwa konversi pada remaja dengan menggunakan angket dan
statistik.
Medical
Materialism
Di antara usaha-usaha yangberlebih-lebihan dalam
menerangkan fakta-fakta agamis secara fisik adalah Theory Medical Materialism, dimana mereka memandang keadaan jiwa dan
fikiran sebagai ungkapan dari fungsi-fungsi organik, maka keistimewaan
orang-orang suci dan tenggelamnya mereka dalam kehidupan rohani, dianggapnya
sebagai akibat dari penyakit-penyakit jasmani, misalnya dari kegoncangan
sebagian kelenjar-kelenjar atau terjadinya keracunan.
William
James
Penelitian William James sebenarnya didasarkan atas catatan-catatan
orang-orang yang sadar agama yang mereka rasakan; disamping dokumen-dokumen
orang-orang penting dalam agama, baik yang mereka tulis sendiri, maupun yang
ditulis oleh orang-orang lain. William James telah berjasa dalam membuka
lembaran baru dalam penelitian tentang jiwa agama, hanya sayangnya
penelitiannya terbatas kepada ahli-ahli agama, bukan orang biasa.
George
M. Stratton
Pada tahun 1911 terbit buku Psycchology of Religious Life. Yang ditulis oleh George M.
Stratton. Pendapat yang dikemukakan cukup menarik perhatian, dimana ia
berpendapat bahwa sumber agama itu adalah konflik jiwa dalam diri individu.
Fluornoy
Pada tahun 1901 Fluornoy berusaha mengumpulkan semua
penelitian psikologis yang pernah dilakukan terhadap agama, sehingga dapat
disimpulkannya cara-cara dan metode yang harus digunakan dalam peneliti
fakta-fakta tersebut. Di antara prinsip-prinsip pokok yang telah digunakan oleh
ahli-ahli sebelumnya, yang oleh Fluornoy dipandang penting guna meneliti
fakta-fakta agamis pada seseorang secara psikologis ialah:
a.
Menjauhkan
penelitian dari transcendance
b.
Prinsip
mempelajari perkembangan
c.
Prinsip
perbandingan
d.
Prinsip
dinamika
e.
Konverensi
Genewa
James
B. Pratt
Perkembangan ilmu jiwa agama semakin maju, terutama
dengan terbitnya bukunya The Religious
Consiusness pada tahun 1920. Beliau sebagai guru besar dalam ilmu filsafat,
namun ia pernah mengadakan suatu riset secara impiris ilmiah dalam bidang ilmu
jiwa agama.
Rudolf
Otto
Di jerman terbit pula buku Das Heilige oleh Rudolf Otto, yang kemudian diterjemahkan ke dalam
bahasa inggris tahun 1923. Yang terpokok dalam buku tersebut adalah
pengalaman-pengalam psikologis dari pengertian tentang kesucian, yang
diambilnya sebagai pokok dalam hal ini adalah sembahyang. Buku yang cukup
menurut zamannya.
Pierre
Bovet
Bovet menemukan bahwa pengalaman-pengalaman agamis itu,
baik dalam sejarah bangsa-bangsa maupun dalam kehidupan individu, sangat
bermacam-macam sehingga apa yang dimaksud dengan agama itu timbul dari
sumber-sumber yang bermacam-macam dalam jiwa seseorang. Ia berkesimpulan bahwa
agama anak-anak tidak berbeda dari agama orang dewasa.
R.H
Thouless
Pada tahun 1922 Thouless kembali mempelajari ilmu-ilmu
jiwa agama dengan cara-cara dan dasar-dasar penelitian secara filsafat yang
kemudian pada tahun 1923 diterbitkan buku dengan judul ”An Introduction to the
Psychology of Religion”, dimana agama dipelajari dari segi psikologis.
Sante
de Sanctis
Dia berpendapat bahwa ilmu jiwa agama adalah sebuah usaha
untuk memahami tindakan agamis dari seseorang, dilihat dari proses jiwa yang
terkenal dalam ilmu jiwa. Dia menentukan bahwa jiwa manusia itu bekerja dalam
bidang agama seperti segala segi kegiatan jiwa lainnya.
Teori
Psikoanalisa
Aliran psikoanalisa terkenal dengan mendalamnya
penganalisaan terhadap kehidupan jiwa manusia sampai kepada alam bawah sadar.
Sigmund
Freud
Dalam penelitian terhadap agama, perhatian freud banyak
tertumpa kepada aspek-aspek sosial dari agama itu. Misalnya dalam menganalisa
agama-agama orang orang primitif, yang diambilnya adalah sembahan Totem dan
Taboo. Maka dibuatnya perbandingan perbandingan antara tingkah laku orang orang
yang terganggu jiwannya dengan orang-orang primitif, maka ditemuka hubungan
antara KompleksOdip dengan upacara agama.
W.
H. Clark
Belumlah lengkap kiranya uraian tentang sejarah
perkembangan ilmu jiwa agama kalau tidak menyebut Walter Houseton Clark
pengarang buku “The Psychology of Religion”, buku yang cukup menarik dan
lengkap membawakan proses-proses dan dinamika jiwa agama sejak anak kecil
sampai kepada orang dewasa.
BAGIAN 2
5. Petumbuhan
Agama Pada Anak-Anak
Bagaimana Si Anak Mengenal Tuhan?
Anak-anak mulai mengenal Tuhan, melalui bahasa, dari
kata-kata yang ada pada lingkungannya, yang pada permulaan diterimannya secara
acuh tak acuh saja. Cerita cerita dalam kitab suci dapat menarik perhatian
anak-anak, seperti cerita hantu dan sebagainya. Perhatian anak-anak lebih
tertuju kepada orang-orang, pemuka-pemuka agama dari dari pada isi ajarannya,
dan cerita itu akan lebih menarik jika berhubungan dengan masa anak-anak dari
tokoh-tokoh agama itu.
Pentingnya hubungan anak dengan orang tua
Orang tua adalah pusat kehidupan rohani si anak dan
sebagai penyebab berkenalannya dengan alam luar, maka setiap reaksi emosi anak
dan pemikirannya di kemudian hari, terpengaruh oleh sikapnya terhadap orang
tuanya di permulaan hidupnya dahulu. Apabila suatu keluarga jarang pergi ke
tempat ibadah, anaknya akan kurang aktif dalam soal agama. Demikianlah
anak-anak yang hidup dalam keluarga yang kurang menjalankan agama dalam
kehidupannya sehari-hari, maka perhatian anak anak terhadap agama kurang
pula.
Kelahiran dan kematian
Pengertian si anak tentang masalah mati membawa suatu
prinsip pikiran yang baru, yaitu prinsip pikiran yang baru, yaitu prinsip
sebab-musabab, hal ini membawa kepada sikap baru, yang terlihat bekasnya dalam
segala segi, demikian juga terhadap gambaran si anak tentang Tuhan. Sebelum
umur 7 tahun, belum ada pikiran si anak tentang tuhan sebab jika ia
mengembalikan pada Tuhan apapun yang terjadi karena kemauannya sendiri. Jadi pikirannya belum mencapai sebab musabab,
hanya sebab yang tidak logis, yaitu karena kemauan pribadi tanpa alasan.
Tuhan Sebagai Keharusan Moral
Bagi Anak
Sesungguhnya pertumbuhan kesadaran moral pada anak
menyebabkan agama anak-anak mendapatkan laporan baru maka bertambahnya pula
perhatiannya terhadap nasehat-nasehat agama, dan kitab suci baginya tidak lagi
merupakan kumpulan undang-undang yang adil, yang dengan itu Allah menghukum dan
mengatur dunia guna menunjuki kita kepada kebaikan.
Allah dan perasaan sosial
Dengan timbulnya sifat-sifat moral bagi agama, tercakup
di dalamnya peningkatan rasa sosial, dimana si anak memandang bahwa nilai-nilai
agama lebih tinggi dari nilai-nilai keluarga. Di samping itu dapat dirasakan
bahwa anak-anak mulai mengerti bahwa agama bukan lah kepercayaan pribadi, atau
keluarga, melainkan kepercayaan masyarakat seluruhnya.
6. Pendidikan
Agama Bagi Anak
a.
Pembinaan
Pribadi Pada Anak
Tugas pembinaan pribadi anak di sekolah dasar, bukan
bukan tugas guru dan agama saja, tapi tugas guru pada umumnya disamping tugas
orang tua. Namun peranan para guru agama dalam hal ini sangat menentukan. Guru
agama dapat memperbaiki kesalahan yang dibuat oleh orang tua, kemudian bersama
guru-guru lain membina pembinaan anak.
b.
Perkembangan
Agama Pada Anak
Perkembangan agama pada anak sangat ditentukan oleh
pendidikan dn pengalaman yang dilaluinya, terutama pada masa-masa pertumbuhan
yang pertama (masa anak) dari umur 0-12 tahun. Seseorang pada masa itu tidak
dapat didikan agama dan tidak pula mempunyai pengalam keagamaan, maka ia nanti
setelah dewasa akan cenderung bersikap negatif kepada agama.
c.
Pembiasaan
Pendidikan Anak
Hendaknya setiap pendidik menyadari bahwa dalam pembinaan
pribadi anak sangat diperlakukan pembiasaan-pembiasaan dan latihan-latihan yang
sangat cocok dan sesuai dengan perkembangan jiwanya. Karena pembiasaan dan
latihan tersebut akan membentuk sikap tertentu pada anak, yang lambat laun
sikap itu akan bertambah jelas dan kuat, akhirnya tidak tergoyahkan lagi,
karena telah masuk menjadi bagian dari pribadinya.
d.
Beberapa
hal yang perlu diingat oleh guru
1)
Guru
agama adalah pembina pribadi, sikap dan pandangan hidup anak. Karena itu.
2)
Guru
agama harus memahami betul-betul perkembangan jiwa anak, agar dapat mendidik
anak dengan cara yang cocok dan sesuai dengn umur.
3)
Pendidikan
agama pada umur SD, harus lebih banyak percontohan dan pembiasaan.
4)
Guru
harus memahami latar belakang anak yang menimbulkan sikap tertentu pada anak.
7. Perkembangan
Agama Pada Remaja
Pertumbuhan mental remaja
Pertumbuhan pengertian tentang ide-ide agama sejalan
dengan pertumbuhan kecerdasan. Pengertian-pengertian tentang hal-hal yang
abstrak, yang tidak dapat dirasakan atau dilihat langsung seperti pengertian
tentang akhirat, syurga, neraka dll, baru dapat diterima oleh anak-anak apabila
pertumbuhan kecerdasannya telah memungkinkan untuk itu. Itulah sebabnya maka
seharusnya pengertian-pengertian yang abstrak itu dikurangi, apabila umur
remaja belum dicapai oleh si anak.
Masalah mati dan kekekalan
Pada masa remaja telah dapat dipahami bahwa mati itu
adalah suatu hal yang tak dapat dihindari oleh setiap diri. Pemikiran remaja
tentang mati dalam hal ini adalah terdorong oleh kepentingan emosi yang
dirasakannya.
Emosi Dan Pengaruhnya Terhadap Kepercayaan Agama
Keyakinan remaja akan sifat-sifat Tuhan yang banyak itu
berubah-ubah sesuai dengan kondisi emosinya, dan ia mengalami keyakinan yang
mundur maju. Kadang kadang terasa sekali olehnya kepada Tuhan, terasa dekat dan
seolah olah dia berdialog langsung dengan Tuhan. Tetapi kadang-kadang ia merasa
jauh tidak dapat memusatkan pikiran waktu berdoa atau sembahyang, itulah ciri
khas remaja, yang sedang mengalami kegoncangan emosi.
Perkembangan Moral Dan Hubungannya Dengan Agama
Pembinaan moral, terjadinya melalui pengalaman pengalaman
dan kebiasaan, yang ditanamkan sejak kecil oleh orang tua. Yang mulai dari pembiasaan hidup sesuai
dengan nilai-nilai moral, yang ditirunya dari orang-orang tua dan mendapat
latihan-latihan untuk itu.
Kedudukan Remaja Dalam Masyarakat Dan Pengaruhnya
Terhadap Keyakinannya.
Remaja cenderung aktif dalam kegiatan kegiatan agama
sebenarnya ada dan dapat dipupuk asal lembaga-lembaga keagamaan itu dapat
mengikut sertakan remaja-remaja dan memberi kedudukan yang pasti pada mereka.
Sikap remaja terhadap agama
a.
Percaya
turut-turutan
b.
Percaya
dengan kesadaran
c.
Bimbang
d.
Atheis
atau tidak percaya sama sekali.
8. Perkembangan
Jiwa dan Agama Pada Anak dan Remaja
a.
Pendidikan
Agama
Pendidikan
agama yang baik, tidak saja memberi manfaat yang bersangkutan, akan tetapi akan
membawa keuntungan dan manfaat terhadap masyarakat lingkungannya bahkan bahkan
masyarakat ramai dan ummat manusia seluruhnya.
b.
Perkembangan
Agama Pada Anak
masa
anak-anak 0-12 thn. Masa remaja 13-21 tahun. Masa dewasa 2i tahun katas. Ketiga
tahap umur tersebut mempunyai ciri khas masing-masing.
c.
Kanak-Kanak
Pada Tahun Pertama (0-6)
Si
anak mulai mengenal Tuhan dan agama melaui orang-orang di lingkungan sekitarya
tempat mereka tinggal.
d.
Anak-anak
pada umur sekolah (6-12)
Semakin
besar si anak, semakin bertambah fungsi agama baginya, misalnya pada umur 10
tahun ke atas, agama mempunyaifungsi moral dan sosial bagi anak.
e.
Masa
remaja pertama (13-16)
Disini
seseorang mengalami fase goncang, yaitu maju-mundur emosi kedekatan mereka
dengan Tuhannya. Disini guru agama berperan penting dalam membimbing ajaran
agam disebuah sekolah.
f.
Masa
remaja terkahir (17-21)
Disini
merupakan fase dimana seorang remaja menuntut kepada agar ajaran yang ia terima
masuk akal, dapat dipahami, dapat dirasionalkan. Guru agama berperan penting
untuk menjlaskan konflik-konflik tersebut.
9.
Pembinaan Kehidupan beragama Bagi Remaja
a.
Ciri-ciri
masa remaja terakhir
1)
Pertumbuhan
jasmani cepat telah selesai
2)
Pertumbuhan
kecerdasan hampir selesai
3)
Pertumbuhan
pribadi belum selesai.
4)
Pertumbuhan
jiwa sosial masih berjalan
5)
Keadaan
jiwa agama yang tidak stabil
b.
Problem
Remaja
1)
Masalah
hari depan
2)
Masalah
hubungan dengan orang tua
3)
Masalah
moral dan agama
c.
Membina
kehidupan beragama dalam kampus
1)
Tunjukkanlah
bahwa kita membina mereka
2)
Pembinaan
secara konsultasi
3)
Dekatkan
agama pada hidup
10. Pembinaan
Moral Dan Agama Bagi Generasi Muda
a.
Masalah
Kehidupan Moral dan Agama Generasi Muda Dewasa Ini
Dalam
hal ini nilai-nilai moral yang akan diambilnya menjadi pegangan, terasa kabur,
terutama mereka yang hidup di kota besar dari keluarga yang kurang
menghindahkan ajaran agama dan tidak memperhatikan pendidikan agama bagi
anak-anaknya.
b.
Bahaya
Yang Mungkin Terjadi
Secara
umum hambatan itu berbahaya ketika menghambat suatu tujuan, misal malas belajar
dll. Maka dihari kemudian masa depan remaja menjadi kabur.
c.
Cara
Menghadapi Masalah Itu
1)
Perlu
mengadakan saringan atau seleksi terhadap keluar masuknya budaya
2)
Agama
dalam sekolah harus intensif
3)
Agar
diadakan pendidikan khusus untuk orang dewasa dalam bidang kesehatan jiwa
4)
Perlu
adanya biro konsultasi
5)
Dalam
kegiatan pembinaan Pemerintah mengambil tindakan khusus untuk mengikut sertakan
ulama-ulama
d.
Peranan
Wanita Dalam Pembinaan Moral dan Agama Generasi Muda Dewasa Saat Ini
Wanita
merupakan komponen pertama dalam pembinaan moral, khususnya seorang ibu. Karena
ibu merupakan pembina pertama bagi anaknya, pendidikan dan perlakuannya
menentukan kesehatan jiwa anak di kemudian hari.
11. Perkembangan
Kepercayaan Pada Orang Dewasa
Konversi agama
Merupakan perubahan
keyakinan yang berlawanan arah dengan keyakinan semula.
BIODATA
PENULIS
Nama : Zakiyah Daradjat
Lahir :
Agam, 6 oktober 1929 Sumatera Barat
Meninggal : Jakarta 15 januari 2013
Pekerjaan : Psikolog
Agama : Islam
Orang Tua
Ayah : Daradjat Husain
Ibu : Rafiah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar