DINASTI ABBASIYAH
A.
Pendahuluan
Kita sebagai generasi penerus bangsa dan
agama hendaknya belajar untuk mengetahui peradaban peradaban pada masa silam,
pada era globalisasi ini hanya segelintir orang yang ingin memperdalam ilmunya
dalam hal sejarah, terutama sejarah peradaban islam. Sebagai calon pendidik
agama islam yang kompeten, salah satunya dengan cara mengetahui tentang khilafah
yang berperan penting pada kemajuan agama islam, khususnya yaitu dinasti Abbasiyah.
Dalam sepanjang periode dinasti Abbasiyah mampu menorehkan kenangan emas di
kejayaan pemerintahan islam.
B.
Asal-usul
dan pembentukan dinasti Abbasiyah, pemerintah bani Abbas
1.
Asal-usul
Berawal dari runtuhnya pemerintahan bani
Ummayah, Abu Abbas Ass-shafa(750-54), khalifah pertama, mulai merintis pemerintahan sebagai pengganti
khilafah bani Ummayah. Karena keadaan kacau balau yang terjadi pada bani
Ummayah, daerah-daerah kekuasaannya yang jauh dari pusat pemerintahan sering
terjadi perselisihan yang menimbulkan peperangan, dalam hal ini keluarga Al
Abbas memanfaatkan kesempatan untuk melakukan propaganda propaganda agar daerah
kekuasaan bani Ummayah dapat ditaklukan.
2.
Pembentukan bani
Abbasiyah
pada tahun 132 H/750 M.Dan kekuasaan
ini berlangsung selama 5 abad dari tahun
132-656 H (750 M-1258 M).Berdirinya pemerintahan ini di anggap sebagai
kemenangan dimasa itu oleh Bani hasyim (alawiyun)
setelah meninggalnya Rasulullah dan mengatakan bahwa yang berhak berkuasa
adalah keturunan Rasulullah dan anak anaknya.
Dinasti
Abbasiyah didirikan oleh Abdullah al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah
ibn al-Abbas. Kekuasaanya berlangsung pada rentang waktu yang panjang, dari
tahun 132 H (750 M) hingga 656 H (1258 M). Dinamakan dinasti Abbasiyah karena
pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan al-Abbas paman nabi Muhammad
SAW.[2]
Al-Abbas inilah namanya di sandarkan
pada tiga tempat pusat kegiatan, yaitu Humaimah, Kufah, dan Khurasan.Humaimah
merupakan tempat yang tenteram.
dan
disitu penduduknya menganut aliran Syi’ah,(pendukung
ali bin abi thalib). penganut aliran ini selalu bertentangan dengan bani
Ummayah.khurusan memiliki warga yang berani ,kuat ,fisiknya,teguh pendiriannya
mudah terpengaruh nafsu dan tidak mudah bingung terhadap kepercayaan
yangmenyimpang .disanalah di harapkan dakwanya kaum abbasiyah mendapat
dukungan.
Kota Humaimah adalah tempat bermukimnya
keluarga Abbasiyah, di Humaimah di pimpin oleh pemimpin yang bernama Al-Imam
Muhammad bin ali .Beliau adalah peletak dasar-dasar dan pendiri bani
Abbasiyah.Ia pun punya strategi perjuangan kekuasaan atas nama keluarga
rasulullah.mereka berjumlah 150 orang di bawah pemimpinnya 12 orang dan puncak
pemimpinnya adalah Muhammad bin Ali. Propaganda terjadi antara
Abbasiyah dan Ummayah,kedua belah pihak sangatlah berambisi untuk menguasai
wilayah tersebut,di kubu Abbasiyah pun telah melaksanakan strategi yang sangat
matang untuk perlawanan tersebut.dalam strategi ini sangatlah ampuh untuk
penyerangan nanti.namun pada saat sebelum penyerangan terjadi, Imam Ibrahim pemimpin mereka dari Dinasti Abbasiya berkeinginan untuk
menguasai Abbasiyah.tapi gerakan tersebut diketahui oleh pemimpin terakhir dinasti Ummayah,yaitu Marwan bin Muhammad.Ibrahim pun tidak tinggal diam
,Ia pun menyiapkan berbagai rencana untuk ke depannya,karena Ia tahu ujung
ujungnya Ibrahim pun akan tertangkap oleh dinasti Ummayah ,yang dibawah
kepemimpinan Marwan bin Muhammad.Ibrahim pun akhirnya memberi wasiat kepada
adiknya Abul Abbas untuk menggantikan kedudukannya dan memerintahkan untuk
pindah ke Kufah. Sedangkan pemimpin propaganda tersebut di bebankan kepada Abu
Salamah.Segeralah Abul Abbas pindah dari humaimah ke Kufah dengan di iringi
oleh pembesar Abbasiyah yang lain
seperti Abu Ja’far, Isa bin Musa,dan Abdullah bin Ali .setelah itu
Ibrahim pun di penjarakan oleh Dinasti Ummayah
di Haran dan di eksekusi hukuman mati oleh Dinasti Ummayah.
Penguasa Umayyah di Kufah,Yazid bin Umar bin
Hubairah,di taklukan oleh Abbasiyah dan di usir ke Wasit.Abu Salamah
selanjutnya berkemah di Kufah yang telah di taklukan pada tahun 132 H.Abdullah
bin Ali,salah seorang paman Abul Abbas diperintahkan untuk mengajar khalifah
Ummayah terakhir.Marwan bin Muhammad bersama pasukannya yang melarikan
diri,Diana akhirnya dapat dipukul di dataran rendah Sungai Zab.Pengejaran
dilanjutkan ke Mausul,Harran dan menyeberangi sungai Eufarat sampai ke
Damaskus.Khalifah itu melarikan diri hingga ke Fustas Mesir,dan akhirnya
terbunuh,Dengan demikian ,maka tumbanglah kekuasaan Dinasti ummayah,dan
berdirilah Dinasti Abbasiyah yang dipimpin oleh khalifah pertamanya,yaitu Abul
Abbas Ash-shaffah dengan berpusat di Kufah.[3]
Ciri khas pada setiap gaya kepemimpinan para khalifah satu dengan
khalifah yang lainya berbeda beda, hal ini perlu diketahui perbedaan perubahan
untuk mendompleng dalam perubahan sosial, politik, ekonomi, pendidikan dan
pertahanan.
3.
Pemerintahan
bani Abbasiyah
a. Berdasarkan pola pemerintahan, para sejarawan
membagi masa pemerintah Bani Abbas menjadi lima periode.
1)
Periode
pertama (132 H /750 M – 232 H/847 M), disebut periode pengaruh Persia pertama.
2)
Periode kedua
(232 H/847 M – 334 H/945M), disebut masa periode pengaruh turki pertama.
3)
Periode ketiga
(334 H/ 945 M – 447 H/1055 M), masa periode Persia kedua
4)
Periode
keempat (447 H/1055 M – 590 H/1194 M) masa periode turki kedua
5)
Periode kelima
(590 H/1194 M – 656 H/1258 M) masa periode bebas.[4]
Dalam
periode pertama pemerintahan bani abbas berkembang pesat dalam bidang politik,
karena pada masa itu para pemimpin yang adil dan bijak ikut serta dalam
mengelola politik pemerintah, tidak hanya politik saja, filsafat dan ilmu
pengetahuan juga mulai berkembang. Setelah periode Persia pertama berakhir,
politik pemerintahan bani abbas mengalami kemerosotan. Namun dalam hal filsafat
dan ilmu pengetahuan tetap berkembang.
Pada periode pertama pemerintah bani abbasiyah mencapai masa keemasaan di
bawah pimpinan Al-Mahdi, Al-Hadi, Harun ar-Rasyid, Al-Makmun, Al-Muktasim,
Al-Wasiq, dan Al-Mutawakkil..[5]
b.
Khalifah
Dinasti Abbasiyah
Sistem Pemerintahan Dinasti Abbasiyah
1)
Abul Abbas
Ash-Shaffah (750-754 M.)
Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah Abbas, khalifah pertama
ayahnya adalah orang yang melakukan gerakan untuk mendirikan pemerintahan bani
Abbasiyah dan menyebarkan kemana-mana. Pada masa pemerintahannya, saat pasukan
Abbasiyah menguasai Khurasan, dia keluar dari persembunyian dan di baiat
sebagai khalifah pada tahun 132 H/749 M. Setelah itu mengalahkan Marwan bin
Muhammad dan menghancurkan pemerintahan bani Umayyah pada tahun yang sama.
Pemerintahan yang ia pimpin berdasarkan tiga hal :
a)
Keluarganya
sebab dia memiliki paman, saudara, dan anak-anak dalam jumlah besar. Mereka
menyarahkan kepemimpinan wilayah kepadanya. Demikan juga dalam masalah nasihat
dan musyawarah
b)
Abu Muslim
Khurasan. Dia adalah panglima perang
yang sangat tangguh, dengan kekuatan dan tekatnya yang kokoh dia mampu
menaklukkan Khurasan dan Iraq.
c)
Panathisme
golongan,dia muncul pada akhir pemerintahan dan melemahya pemerintahan, peluang
ini ditangkap manis oleh bani Abbasiyah
pada masa pemerintahan abu Abbas Ash-Shaffah disibukkan pada kosolidasi
internal dan menguatkan pilar-pilar negara.
2)
Abu Ja’far Al
Manshur (754-775 M)
Abu Ja’far al Manshur merupakan khalifah kedua bani Abbasiyah yang
menggantikan saudaranya Abu Abbas ash Shafa. Yang pertama kali dilakaukan
khalifah Abu Ja’far Al Manshur setelah dilantik menjadi khalifah adalah
mengatur politik dan siasat pemerintahan Bani Abbasiyah. Jalur-jalur pemerintahan ditata rapi dan cermat, sehingga
pada masa pemerintahannya terjalin kerjasama yang erat antara pemerintahan
pusat dan pemerintahan daerah.
Khalifah Abu Ja’far Al-Manshur sangat mewaspadai tiga kelompok yang
menurutnya dapat menjadi batu sandungan bagi Bani Abbasiyah dan dirinya,
kelopok itu adalah:
a)
Kelompok yang
dipimpin oleh Abdullah bin Ali, paman Abu Ja’far. Pengikut Abdullah bn Ali
sangat banyak serta berambisi untuk menjadi khalifah.
b)
Kelompok yang
dipimpin oleh Abu Muslim Al-Khurasani
c)
Kalangan syiah
yang di pimpin oleh pendukung berat keturunan Ali bin Abi Thalib.
3)
Muhammad
Al-Hadi
Muhammad Al-Mahdi Ibnu Mansur, dilantik sebagai khalifah sesuai
dengan wasiat ayahnya pada tahun 158 M/774 M. Dia dikenal sebagai seorang yang
dermawan dan pemurah. Pada masa pemerintahannya, kondisi pada saat itu sangat
stabil, dan tidak ada satu gerakan penting dan signifikan di masanya.
4)
Musa Al-Hadi
Musa Al Hadi bin Muhammad Al Hadi dilantik sebagai khalifah setelah
ayahnya. Pada masa itu terjadi pemberontakan oleh Husein bin Ali Ibnul Hasan
bin Ali di Madinah. Dia mengingkan agar pemeritahan ada di tangannya. Namun Al
Hadi mampu menaklukannya dalam perang Fakh pada tahun 169 H/ 785 M. Pada saat
yang sama juga Yahya bin Abdullah juga melakukan pemberontakan di Dailam. Al
Hadi memberangkatkan Ar Rasyid sampai Yahya bin Abdullah mampu di taklukkan.
5)
Harun Al Rasyid
Harun ArRasyid Ibnu Mahdi, dia merupakan mutiara sejarah Bani
Abbasiyah. Pada masa pemerintahannya islam mengalami puncak kemegahan dan kesejahteraan
yang belum pernah dicapai sebelumnya. Harun Ar Rasyid dikenal sebagai sosok
yang berani. Dia melakukan penyerbuan dan penaklukan negeri romawi pada saat baru
berumur 20 tahun.
6)
Muhammad
Al-Amin
Muhammad Al-Amin bin Harun Ar Rasyid diberi kekuasaan di Irak,
namun salah seorang mentri Al Amin yang mendorongnya untuk mencopot posisi putera
mahkota dari adiknya dan memberikannya kepada anaknya yang bernama Musa. Al
Amin termakan tipuan ini ,dan Al Amin segera memberontak. Pada tahun 195 H/ 810
M, Al Amin mengirimkan dua pasukan untuk memerangi saudaranya, namun berhasil
di hancurkan oleh Tharir bin Husein, panglima perang Al Makmun. Al Amin sendiri
di kenal sebagai seorang yang suka berfoya-foya serta banyak melalaikan urusan
Negara.
7)
Abdullah Al
Makmum
Abdullah Al Makmum bin Harun ArRasyid. Pada masa pemerintahannya banyak
peristiwa penting yang terjadi, pertama adalah pemberontakan Baghdad dan pengukuhan
Ibrahim al-Mahdi sebagai khalifah. Kedua al Khuramiyah dan ketiga adanya fitnah
bahwa al Quran adalah Makhluk. Penaklukan – penklukan pada masa pemerinthan sangat
terbatas. Dia hanya mampu menaklukan Laz, sebuah tempat di Dailam pada tahun
202 H/817 M.
8)
Abu Ishaq al
Mu’tashim
Peristiwa penting yang ada pada zaman pemerintahan Abu Ishaq
Al-Mu’tashim adalah gerakan Babik al Khuramiy. Penaklukkan yang dilakukan oleh
Abu Ishaq al Mu’tashim adalah penaklukkan al Muriyah, yang mana hanya perbuatan
yang melampaui batas. Abu Ishaq al Mu’tashim menjabat pemerintahan selama 9
tahun.
9)
Harun al Watsiq
Harun bin Muhammad al Mu’tashim menjadi khalifah setelah ayahnya al
Mu’tashim, pada tahun 227 H/841 M. Panglima-panglima turki pada masanya mencapai
posisi yang sangat terhormat. Bahkan, Asynas mendapatka ngelar “Sultan” dari
al-Watsiq. Al Watsiq menjabat pemerintahan selama 5 tahun.
10)
Ja’far al
Mutawakkil
Ja’far al Mutawakkil adalah salah seorang yang melarang dengan keras
pendapat yang menetapkan al Qur’an adalah Makhluk. Pada masa pemerintahannya
orang-orang Romawi melakukan penyerangan Dimyat, Mesir. Peristiwa initer jadi
pada tahun 238H./852 M. al Mutawakkil dibunuh anaknya yang bernama al’Muntashir
pada tahun 247 H.
Sebelum Abdul
Abbas Ash-Shaffah meninggal, ia sudah mewasiatkan siapa penggantinya, yaitu
saudaranya, Abu Ja’far , Kemudian Isa bin Musa, keponakannya. Sistem pengumukan
putra mahkota itu mengikuti cara Dinasti Umayyah. Para khalifah Bani Abbasiyah
berjumlah 37 khalifah, mereka adalah:[6]
1.
Abdul Abbas
As-Shaffah (Pendiri) 749-754
M
2.
Abu Ja’far
Al-Manshur 754-775
M
3.
Abu Abdullah
Muhammad Al-Mahdi 775-785
M
4.
Abu Muhammad
Musa Al-Hadi 785-786
M
5.
Abu Ja’far
Harun Ar-Rosyid 786-809
M
6.
Abu Musa
Muhammad Al-Amin 809-813
M
7.
Abu Ja’far
Abdullah Al-Ma’mun 813-833
M
8.
Abu Ishaq
Muhammad Al-Mu’tashim 833-842
M
9.
Abu Ja’far
Harun Al-Wastiq 842-847
M
10.
Abu Fadl Ja’far
Al-Mutawakil 847-861
M
11.
Abu Ja’far
Muhammad Al-Muntashir 861-862
M
12.
Abu Abbas Ahmad
Al-Musta’in 862-866
M
13.
Abu Abdullah
Muhammad Al-Mu’taz 866-869 M
14.
Abu Ishaq
Muhammad Al-Muhtadi 869-870
M
15.
Abul Abbas
Ahmad Al-Mu’tamid 870-892
M
16.
Abul Abbas
Ahmad Al-Mu’tadid 892-902
M
17.
Abul Muhammad
Ali Al-Muktafi 902-905
M
18.
Abu Fadl Ja’far
Al-Muqtadir 905-932
M
19.
Abu Manshur
Muhammad Al-Qohir 932-934
M
20.
Abul Abbas
Ahmad Ar-Radi 934-940
M
21.
Abu Ishaq
Ibrahim Al-Muttaqi 940-944
M
22.
Abul Qasim
Abdullah Al-Mustaqfi 944-946
M
23.
Abul Qasim
Al-Fadl Al-Mu’ti 946-974
M
24.
Abul Fadl
Abdul-Karim Al-Thai 974-991
M
25.
Abdul Abbas
Ahmad Al-Qadir 991-1031
M
26.
Abu Ja’far
Abdullah Al-Qaim 1031-1075
M
27.
Abul Qasim
Abdullah Al-Muqtadi 1075-1094
M
28.
Abul Abbas
Ahmad Al-Mustadzir 1094-1118
M
29.
Abu Manshur
Al-Fdl Al-Mustarsyid 1118-1135
M
30.
Abu Ja’far
Al-Manshur Ar-Rasyid 1135-1136
M
31.
Abu Abdullah
Muhammad Al-Muqtafi 1136-1160
M
32.
Abul Mudzafar
Al-Mustanjid 1160-1170
M
33.
Abu Muhammad
Al-Hasan Al-Mustadi 1170-1180
M
34.
Abu Abbas Ahmad
An-Nasir 1180-1225
M
35.
Abu Nasr
Muhammad Az-Zahir 1225-1226
M
36.
Abu Ja’far
Al-Mansur Al-Muntashir 1226-1242
M
37.
Abu Ahmad
Abdullah Al-Mu’tashim Billah 1242-1258
M
Dinasti
Abbasiyah, seperti halnya dinasti yang lain dalam sejarah islam, mencapai masa
kejayaan politik dan intelektual mereka setelah didirikan. Kekhalifaan Baghdad
yang didirikan oleh As-Saffah dan Al-Manshur mencapai masa keemasan antara masa
khalifah ketiga, Al-Mahdi, dan khalifah kesembilan, Al-Wastiq, dan lebih khusus
lagi pada masa Harun Ar-Rasyid dan anaknya., Al-Ma’mun. Karena kehebatan dua
khalifah itulah, Dinasti Abbasiyah memiliki kesan baik dalam inggatan publik,
dan menjadi dinasti paling terkenal dalam sejarah islam.[7] Dari berbagai uraian tersebut jika kita mengetahui
lebih rinci maka disetiap pemimpin mempunyai pencapaian kemajuan berbeda beda
dalam hal sosial, politik, dan budaya.
C. Ekspansi bani Abbasiyah
Salah satu keunikan dari pemerintahan bani
Abassiyah yaitu dibentuknya suatu susunan kepemimpinan, mulai dari menteri,
gubernur dan tentara. Sehingga dapat menstabilkan pemerintahan untuk mencakup
segala bidang.
Khususnya pada periode pertama bermula
dari khalifah Al-Mansyur yang berkeinginan menstabilkan Negara yang baru
dirintis, beliau memindahkan ibu kota Negara ke kota Bagdad, dekat dengan bekas
ibu kota Persia. Maka pusat pemerintahan bani Abbasiyah terletak di tengah -
tengah Persia.
Perluasan wilayah pertama dilakukan oleh
Khalifah al-Mansyur, beliau berusaha menaklukan kembali daerah daerah yang
sebelumnya membebaskan diri dari pemeritahan pusat, dan menetapkan keamanan di
daerah perbatasan. Diantara usaha usaha tersebut beliau telah berhasil merebut
berbagai benteng di Asia, kota Malatia, wilayah Coppadocia dan Cicilia pada
tahun 756-758 M.[8]
Al-Mansyur mengklaim bahwa beliau menganggap dirinya sebagai khalifah yang
mendapat mandat langsung dari Allah,
untuk itu dalam sebuah proses pemerintah
yang beliau kerjakan tidak lepas dari dasar dasar ajaran agama islam.
D. Masa kejayaan bani Abbasiyah
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, peradaban
dan kebudayaan islam tumbuh dan berkembang, bahkan mencapai kejayaan pada masa
dinasti Abbasiyah. Hal tersebut dikarenakan dinasti Abbasiyah lebih
menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada perluasan wilayah.[9]
Dalam
hal ini berbagai prospek kemajuan dalam bidang sosial, politik, budaya dan ilmu
pengetahuan menjadikan sebuah tanda masa
kejayaan peradaban islam pada masa pemerintahan bani Abbasiyah, dengan dipimpin
oleh khalifah yang tegas, adil dan agamis. Dapat memperkokoh suatu pemerintahan
yang dapat mengguncang peradaban kehidupan islam sepanjang masa, perlu
diketahui pemerintahan bani abbasiyah adalah pemerintahan yang paling lama
berkuasa setelah Khulafaur Rasyidin berakhir.
Pemerintahan
bani Abbasiyah telah meraih kemajuan diantaranya dalam bidang Agama,
pengetahuan, ekonomi, pertahanan, seni budaya, dan melahirkan para ilmuwan
ilmuwan islam yang hebat pada masa itu, hampir semua bidang telah ditekuni
hingga mencapai prestasi-prestasi yang gemilang.
1.
Ilmu
Agama
Kemajuan
ilmu agama pada pemerintahan bani Abbasiyah telah berkembang pesat sehingga
banyak pengetahuan baru yang didapat pada masa itu, ilmu agama tidak terlepas
dari sumber utama yaitu Al-Quran.
a.
Ilmu
tafsir
Ilmu metode tafsir pada
masa bani Abbasiyah telah
berkembang sehingga
muncul metode metode baru yaitu,
metode tafsir bi al-ra’yi yaitu metode tafsir dengan menggunakan akal, dan tafsir bi al-ma’tsur yaitu metode tafsir dengan menggunakan hadist nabi Muhammad.
metode tafsir bi al-ra’yi yaitu metode tafsir dengan menggunakan akal, dan tafsir bi al-ma’tsur yaitu metode tafsir dengan menggunakan hadist nabi Muhammad.
a.
Ilmu
hadist
Dalam
bidang ilmu hadist para sahabat berusaha untuk mengelompokkan kekuatan isi
hadist, sehingga terciptanya hadist dhaif, maudlu, shahih, dan lain lain.
b.
Ilmu fiqih
Dalam bidang ini,
didalam islam muncul 4 madzab yaitu:
Madzab Hanafi
Madzab Maliki
Madzab Syafi’i
Madzab Hambali
c.
Ilmu
kalam
Ilmu ini membahas tentang kajian yang berisi dosa,
pahala, surga dan neraka serta perdebatan tentang ketuhanan atau tauhid yang
bisa menghasilkan suatu ilmu, yaitu ilmu kalam atau teologi. Diantara tokoh
ilmu kalam, sebagai berikut:
1)
Imam Abu hasan
al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi. (tokoh Asy’ariyah).
2)
Wasil bin
Atha’ dan Abu Huzail al-Allaf (tokoh Mu’tazilah).
3)
Al Juba’i.7
[10]
2.
Ilmu
pengetahuan dan filsafat
Khalifah al-Mutawakkil mendirikan
sekolah tinggi untuk penerjemah pada tahun 856 M, inilah cikal bakal lahirnya
ilmu pengetahuan pada masa bani Abbasiyah. Berbagai ilmu pengetahuan umum masuk
ke dalam Islam berasal dari yunani dan Persia dan diterjemahkan dalam bahasa
arab. Dengan kegiatan penerjemahan tersebut karangan ilmuwan non muslim seperti
Aristoteles, Plato, Galen, dan karangan kedokteran lainya dapat dipelajari oleh
kaum muslim. Dalam berkembangnya ilmu pengetahuan ini sering disebut dengan
abad keemasan pada tahun 900-1100 Masehi.
Ilmu pengetahuan tersebut membahas
tentang kajian dalam bidang filsafat, kedokteran, farmasi, astronomi, geografi,
matematika, sejarah dan sastra.
3.
Bidang
ekonomi dan pertanian
Ekonomi pemerintahan bani Abbasiyah di
dompleng dari sektor perdagangan. Ada pula berbagai industri berkembang pada
saat itu. Seperti indutri kain linen dari mesir, kain sutra dari Syria dan
irak, dan industri kertas dari Samarkand, pengelolahan pemerintahan yang
sistematis sehingga berimbas pada keadaan ekonomi masyarakat bani Abbasiyah
secara otomatis menimbulkan urbanisasi di perkotaan pusat pemerintahan.
Dalam bidang pertanian kaya akan hasil
perkebunan kurma dan gandum. Pada masa khalifah al-Mahdi perekonomian di
dominasi oleh sektor pertanian, sistem irigasi digunakan untuk strategi
pertanian pada masa itu. Tidak hanya sektor pertanian dalam bidang petambangan
juga berkembang dengan menghasilkan perak, emas, tembaga, dan besi. Dengan kemajuan ekonomi yang pesat
kota Basrah menjadi pelabuhan penting karena digunakan para pedagang timur dan
barat untuk transit.
4.
Militer
Di
sebuah Negara yang maju dan gigih mempertahankan kekuasaan wilayahnya,
pemerintahan bani Abbasiyah mempunyai sistem pertahanan yang kuat
sehinggadibentuklah angkatan perang yang berada dibawah komando diwan aljund
dan terdiri dari angkatan darat dan angkatan laut. Keduanya terdiri dari :
a.
Al-Jundul
Murtaziqah, yaitu tentara yang digaji tetap dan tinggal di asrama.
b.
Al-Jundul
Mutha’uwiah, yaitu semaca milisi[11]
Pada masa pemerintahan bani Abbasiyah
pertahanan Negara menggunakan sistem militer untuk keamanan, hanya terdapat dua
angkatan perang,darat dan laut. Angkatan perang ini juga diberi gaji sesuai
dengan pangkat dan usahanya.
5.
Pendidikan
Negara yang mulai maju seperti bani
Abbasiyah awalnya merintis dunia pendidikan dengan membangun tempat menimba
ilmu seperti ma’had karena pada saat itu belum ada sekolah, adapun tempat
tempatnya yaitu ;
a.
Kutta, yaitu
lembaga pendidikan tingkat dasar yang sudah ada sejak zaman nabi Muhammad saw.
Di tempat ini para murid diajarkan menulis dan membaca, kemudian berkembang
menjadi ilmu agama.
b.
Halaqah, yaitu
model pendidikan dimana guru duduk dikelilingi murid muridnya.
c.
Masjid dalam
sejarahnya bukan hanya tempat shalat tetapi juga tempat untuk menuntut ilmu.
Lembaga pendidikan di dalam masjid tersebar di berbagai provinsi wilayah islam.
d.
Majlis
Munandharah, yaitu tempat majlis pertemuan para ulama sarjana, ahli piker, pujangga
untuk membahas masalah masalah- ilmiah.
e.
Baitul hikmah,
yang didirikan oleh Harun al-Arrasyid dan kemudian disempurnakan oleh khalifah
Makmun, baitul Hikmah adalah perpustakaan terbesar, yang disediakan pula ruang
tempat belajar.[12]
Dengan jelas diketahui bahwa berbagai
lembaga pendidikan di masa pemerintahan bani Abbasiyah sangat berkembang pesat
dan melahirkan ilmuwan ilmuwan muslim yang cerdas dengan demikian dapat
mengharumkan nama islam di sepanjang sejarah.
6.
Seni
budaya
Dalam suatu peradaban tidak terlepas
dari seni budaya, di setiap wilayah wilayah khususnya bani Abbasiyah banyak
kesenian yang didapat. Mulai dari seni ukir, pahat, patung dan sebagainya.
Tidak hanya itu jauh sebelum islam berkembang kaum jahiliyah sudah mengenal
dengan seni qosidah, khitobah, amtsal, dan lainya. Pada dasarnya Agama islam
adalah agama yang luwes dan terbuka, agama yang dapat menerima kebudayaan
kebudaayan yang baru untuk menuju kearah kebaikan. Hal inilah yang digunakan
para sahabat untuk menyebarkan syiar islam salah satunya menyisipkan ajaran
islam lewat kesenian.
Diantara kemajuan dalam bidang sosial budaya adalah terjadinya
proses alkulturasi dan asimilasi masyarakat. Kemajuan di bidang sosial dan
budaya pada masa Dinasti Abbasiyah adalah seni bangunan dan arsitektur. Seni
arsitektur yang dipakai dalam pembangunan istana dan kota-kota, seperti pada
istana Qashrul dzahabi, dan Qashrul Khuldi, sementara bangunan kota seperti
pembangunan kota Baghdad, Samarra, dan lain-lainnya. Pada masa Dinasti
Abbasiyah budayawan yang terkenal adalah, Abu Nawas, Abu Athahiyah,
Al-Muttanaby, Abdullah bin Mukhaffa, dll.
Di
bidang musik yang karyanya yang masih di pakai adalah Yunus bin Sulaiman,
Khalil bin Ahmad, pecinta teori musik islam, Al-farabi, dan lain-lainnya.
E.
Ilmuwan
Muslim
1.
Filsafat
Kajian
filsafat berada pada puncaknya terletak pada pemerintahan bani Abbasiyah,
bermula dari kegiatan menerjemahkan filsafat yunani ke dalam bahasa arab.
Kegiatan ini melahirkan imuwan ilmuwan muslim diantaranya:
a. Al-Khindi
(811-874)
Beliau dikenal dengan filsuf muslim
pertama yang mengarang sekitar 236 kitab tentang ilmu mantik, filsafat,
handasah, hisab, musik, nujum, dan lain-lain. Diantara karya beliau yaitu
Kimiyatul Itri, Risalah fi faslin, Risalah Fi illat an-Nafs ad-Damm, dan lain-lain.
b. Al-Farabi
(870-950)
Filsuf ini terkenal setelah masa filsuf
al-Khindi. beliau lahir di Farab dan wafat di kota Damaskus. Diantara karya
beliau yaitu Tahsilus Sa’adah, Assiyasatul Madaniyah, Tanbih ala Sabilis
Sa’adah, dan Lain lain
c. Ibnu
Sina (980- 1037 M)
Ibnu Sina lahir di Afsyanah, Bukhara,
pada tahun 980 M, dan wafat di Hamdan pada tahun 1037 M. beliau adalah seorang
dokter dan filsuf ternama. Ibnu Sina meninggalkan karyanya sebanyak 200 buah.
Di antara karyanya sebanyak 200 buah. Diantara karya filsafatnya adalah
Al-Isyarat wa at-Tanbihat, Mantiq al-Masriqiyyin, dan lain-lain.
d. Ibnu
Bajjah (453-523 H)
Ibnu Bajjah terkenal dengan karya
karyanya yaitu kitab filsafat antara lain Tadbirrul Mutawahhid, Fi an-Nafs, dan
Risalatul Ittisal.
e. Ibnu
Rusyd (529-595 H)
Ibnu Rusyd lahir di kota Kordoba pada
tahun 1058 M, dan wafat pada tahun 1111 M. di antara karyanya beliau yaitu
Mabadiul Falasifah, Tahafutut Tahafut, Kulliyan, dan Lain lain.
f. Ibnu
Thufail (225-287 H)
Ibnu Thufail termasuk salah satu murid
Ibnu Bajjah. Di antara karyanya adalah Hayy bin Yaqzan.
g. Al-Ghazali
(1058-1111 M)
Al-Ghazali terkenal dengan karyanya
yaitu Tahafutul Falasifah, Ar-Risalatul Qudsiyah, dan Ihya’ Ulumuddin.
2.
Ilmu
Kedokteran
Pada masa bani Abbasiyah ilmu kedokteran
berkembang sangat cepat sehingga banyak rumah sakit dan sekolah kedokteran yang
didirikan. Di antara ahli kedokteran yang ternama pada saat itu ialah:
a. Abu
Zakariya Yahya bin Mesuwaih beliau wafat pada tahun 242 H. beliau adalah
seorang Ahli farmasi di rumah sakit Junshapur, Iran
b. Abu
bakar ar-Razi dikenal dengan Ghalien Arab. Beliau adalah orang pertama yang
membedakan cacar dan measles, sekaligus penulis buku kedokteran anak.
c. Ibnu
Sina, karya yang terkenal adalah AlQanun fi ath-Thib tentang teori dan praktik
ilmu kedokteran, serta pengaruh obat-obatan dalam bahasa eropa dikenal dengan
Canon of Medicine.
3.
Matematika
Tokoh
terkenal dalam bidang matematika muslim pertama yaitu Al Khawarizmi. Beliau
menciptakan angka nol. Kitab beliau yang terkenal yaitu Al-Jabbar wal
Muqabalah. Tokoh lainya yaitu Abu al-Wafa yang terkenal sebagai ahli ilmu
matematika.
4.
Farmasi
Ahli Farmasi
pada dinasti Abbasiyah yaitu adalah ibnu Baithar, karyanya yang terkenal yaitu
Al-Mughni (mengupas tentang obat-obatan) serta Jami al-Mufradat al-Mufradhat
al-Adawiyah ( mengkaji tentang obat-obatan dan makanan bergizi)
5.
Ilmu
astronomi
1)
Abu Mansyur
al-Falaki (wafat pada tahun 272 H). Karyanya yang terkenal adalah isbat al-Ulum
dan Hayat al-Falak.
2)
Jabir
al-Battani (isbawafat pada tahun 272 H). ia adalah pencipta teropong bintang
pertama. Karyanya yang terkenal adalah
kitab Ma’rifat Mathil Buruj Baina Arbai al-Falak.
3)
Raihan
al-Bairuni (wafat pada tahun 440 H). karyanya adalah At-Tafhim Li Awal as-Sina
at-Tanjim.[13]
6.
Geografi
Dalam bidang geografi , umat islam tergolong sangat maju sebab sejak awal bangsa arab merupakan
bangsa pedagang yang biasa menempuh jarak jauh untuk berniaga, diantara wilayah
pengembaraan adalah Tiongkok dan Indonesia pada masa-masa awal kemunculan
Islam. Berikut adalah ahli geografi pada masa bani Abbasiyah:
1)
Abu hasan al-Masudi, beliau adalah
seorang penjelajah yang mengadakan perjalanan ke Persia, India, Sri Lanka, dan
Tiongkok, sekaligus penulis buku berjudul Muruj az-Zahab wa Ma’adin al-Juwahir.
2)
Ibnu Khurdazabah, beliau berasal dari Persia, yang dianggap
sebagai ahli geografi Islam tertua dengan karya kitab yang terkenal yaitu
Masalik wa al-Mamalik.
3)
Ahmad el-Ya’kub, beliau pernah
mengadakan perjalanan menjelajahi Armenia, Iran, India, Mesir, dan Magribi,
sekaligus menulis buku berjudul Al-Buldan.
4)
Abu Muhammad al-Hasan al-Hamdani,
karyanya yang berjudul Sifatu Jazirah al-arab.
7. Sejarah
Pada
masa dinasti Abbasiyah, muncul tokoh-tokoh sejarah, di antaranya ialah Ahmad bn
Ya’kubi (wafat pada tahun 895 M), dengan karyanya berjudul Al-Buldan
(negeri-negeri) dan at-Tharikh (sejarah).
8. Sastra
Bagdad adalah kota pusat yang
banyakmelahirkan seniman dan sastrawan,
adapun tokoh-tokohnya ;
1)
Abu
Nawas. Ia termasuk salah satu penyair terkenal, dengan cerita humornya
2)
An-Nsyasi.
Beliau adalah penulis cerita yang biasa kita sebut
seribu satu malam, yang dikenal didalam bahasa arab yaitu Lailah wa lailah.
Cerita ini sangat mendunia karena diterjemahkan hamper seluruh dunia[14]
F.
Kemunduran Bani Abbbasiyah
Berbagai faktor
pemicu keruntuhan pemerintahan bani Abbasiyah yaitu terjadi akibat factor
eksternal dan internal.
1.
Factor eksternal
a.
Kemerosotan ekonomi salah satu pemicu
kemunduran bani abbasiyah , salah satunya yaitu Negara mengalami deficit yang
menyebabkan keungan Negara menjadi sulit.
b.
Persaingan
antarbangsa, sejak dinasti abbasiyah berdiri kecenderungan persaingan
antarbangsa sangat mencolok. Hal ini terjadi karena sejatinya sebuah
pemerintahan selalu haus akan wilayah kekuasaan.
c.
Konflik keagamaan, berbagai paham aliran
agama bermunculan pada masa dinasti abbasiyah seperti paham Mu’tazilah, syiah,
Ahlu Sunnah dan lain-lain. Hal ini menyebabkan pemerintah sulit untuk
menyatukan berbagai paham dalam keagamaan.
d.
Ancaman dari luar, hal ini terjadi
karena peristiwa perang salib dan serangan tentara mongol yang berimbas pada
kekuatan pemerintahan bani Abbasiyah.
2.
Factor internal
a.
Kecenderungan kehidupan mewah dan
berfoya-foya para pemimpin yang dapat
menyebabkan masyarakat menjadi miskin
b.
Praktis korupsi pada oleh penguasa
diiringi munculnya nepotisme yang tidak profesional di berbagai wilayah
c.
Muncul nya penguasa penguasa yang lemah,
yang memetingkan kepentingan pribadi dan keluarga. tidak seperti penguasa yang terdahulu yang
mengutamakan kemajuan sosial, politik, dan budaya.
Daftar
Pustaka
Aizid Rizem, sejarah peradaban islam terlengkap,
(Jogyakarta: Diva press, 2015)
Al-Isy Yusuf, dinasti Abbasiyah, (Jakarta timur: penerbit: pustaka alkautsar, 2007)
Amin syamsul munir, sejarah peradaban islam (jakarta: Amzah, 2009)
Al-Isy Yusuf, dinasti Abbasiyah, (Jakarta timur: penerbit: pustaka alkautsar, 2007)
Amin syamsul munir, sejarah peradaban islam (jakarta: Amzah, 2009)
Dedi Supriyadi,Sejarah
Peradapan Islam,(Bandung: Pustak Setia,2008)
Hasjmi A., sejarah kebudayaan islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1993)
Hasjmi A., sejarah kebudayaan islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1993)
Samsul Munir
Amin, Sejarah Peradapan Islam,(
Jakarta: Amzah, 2014)
Yatim Badri, sejarah peradaban islam II, (Jakarta: PT raja grafindo persada, 2000)
Yatim Badri, sejarah peradaban islam II, (Jakarta: PT raja grafindo persada, 2000)
[6] Drs.Samsul Munir Amin, Sejarah Peradapan Islam,(Jakarta:
AMZAH,2013), hlm.141
[10]
Rizem
Aizid, sejarah peradaban islam terlengkap...,
284
[12]
Fadil
Sj, Pasang Surut
Peradaban Islam Dalam
Lintas Sejarah, (Malang: UIN
Malang Press, 2008), h.193-195
[13] Rizem
Aizid, sejarah peradaban islam terlengkap…, 288-290
[14] Rizem
Aizid, sejarah peradaban islam terlengkap…, 288-290
Tidak ada komentar:
Posting Komentar