Sabtu, 10 Maret 2018

MAKALAH BANI ABBASIYAH (LENGKAP)


DINASTI ABBASIYAH

A.   Pendahuluan
Kita sebagai generasi penerus bangsa dan agama hendaknya belajar untuk mengetahui peradaban peradaban pada masa silam, pada era globalisasi ini hanya segelintir orang yang ingin memperdalam ilmunya dalam hal sejarah, terutama sejarah peradaban islam. Sebagai calon pendidik agama islam yang kompeten, salah satunya dengan cara mengetahui tentang khilafah yang berperan penting pada kemajuan agama islam, khususnya yaitu dinasti Abbasiyah. Dalam sepanjang periode dinasti Abbasiyah mampu menorehkan kenangan emas di kejayaan pemerintahan islam.
B.   Asal-usul dan pembentukan dinasti Abbasiyah, pemerintah bani Abbas
1.      Asal-usul
Berawal dari runtuhnya pemerintahan bani Ummayah, Abu Abbas Ass-shafa(750-54), khalifah pertama,  mulai merintis pemerintahan sebagai pengganti khilafah bani Ummayah. Karena keadaan kacau balau yang terjadi pada bani Ummayah, daerah-daerah kekuasaannya yang jauh dari pusat pemerintahan sering terjadi perselisihan yang menimbulkan peperangan, dalam hal ini keluarga Al Abbas memanfaatkan kesempatan untuk melakukan propaganda propaganda agar daerah kekuasaan bani Ummayah dapat ditaklukan.
Negara yang jauh dari pusat bani Ummayah adalah Khurasan. Di tengah tengah bani Umayyah ada kufah dan daerah sekitarnya yang menganut paham Syiah.[1] keturunan Abbas gencar untuk melakukan strategi jitu untuk menggulingkan musuh musuh yang ingin menghalangi berdirinya pemerintahan bani Abbas. Pemerintahan bani Abbas menganut paham Syiah. Berbagai karakteristik model kepemimpinan  muncul didalam setiap pergantian pemimpin di pemerintahan bani Abbasiyah, yang paling mencolok dalam masa kejayaan bani Abbasiyah yaitu pada pemerintahan Harun Al-Arrasyid.    
             
2.     Pembentukan bani Abbasiyah

pada tahun 132 H/750 M.Dan kekuasaan ini  berlangsung selama 5 abad dari tahun 132-656 H (750 M-1258 M).Berdirinya pemerintahan ini di anggap sebagai kemenangan dimasa itu oleh Bani hasyim (alawiyun) setelah meninggalnya Rasulullah dan mengatakan bahwa yang berhak berkuasa adalah keturunan Rasulullah dan anak anaknya.
Dinasti Abbasiyah didirikan oleh Abdullah al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbas. Kekuasaanya berlangsung pada rentang waktu yang panjang, dari tahun 132 H (750 M) hingga 656 H (1258 M). Dinamakan dinasti Abbasiyah karena pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan al-Abbas paman nabi Muhammad SAW.[2]
       Al-Abbas inilah namanya di sandarkan pada tiga tempat pusat kegiatan, yaitu Humaimah, Kufah, dan Khurasan.Humaimah merupakan tempat yang tenteram.
dan disitu penduduknya menganut aliran Syi’ah,(pendukung ali bin abi thalib). penganut aliran ini selalu bertentangan dengan bani Ummayah.khurusan memiliki warga yang berani ,kuat ,fisiknya,teguh pendiriannya mudah terpengaruh nafsu dan tidak mudah bingung terhadap kepercayaan yangmenyimpang .disanalah di harapkan dakwanya kaum abbasiyah mendapat dukungan.
        Kota Humaimah adalah tempat bermukimnya keluarga Abbasiyah, di Humaimah di pimpin oleh pemimpin yang bernama Al-Imam Muhammad bin ali .Beliau adalah peletak dasar-dasar dan pendiri bani Abbasiyah.Ia pun punya strategi perjuangan kekuasaan atas nama keluarga rasulullah.mereka berjumlah 150 orang di bawah pemimpinnya 12 orang dan puncak pemimpinnya adalah Muhammad bin Ali. Propaganda terjadi antara Abbasiyah dan Ummayah,kedua belah pihak sangatlah berambisi untuk menguasai wilayah tersebut,di kubu Abbasiyah pun telah melaksanakan strategi yang sangat matang untuk perlawanan tersebut.dalam strategi ini sangatlah ampuh untuk penyerangan nanti.namun pada saat sebelum penyerangan  terjadi, Imam Ibrahim pemimpin mereka  dari Dinasti Abbasiya berkeinginan untuk menguasai Abbasiyah.tapi gerakan tersebut diketahui oleh pemimpin terakhir  dinasti Ummayah,yaitu Marwan  bin Muhammad.Ibrahim pun tidak tinggal diam ,Ia pun menyiapkan berbagai rencana untuk ke depannya,karena Ia tahu ujung ujungnya Ibrahim pun akan tertangkap oleh dinasti Ummayah ,yang dibawah kepemimpinan Marwan bin Muhammad.Ibrahim pun akhirnya memberi wasiat kepada adiknya Abul Abbas untuk menggantikan kedudukannya dan memerintahkan untuk pindah ke Kufah. Sedangkan pemimpin propaganda tersebut di bebankan kepada Abu Salamah.Segeralah Abul Abbas pindah dari humaimah ke Kufah dengan di iringi oleh pembesar Abbasiyah yang lain  seperti Abu Ja’far, Isa bin Musa,dan Abdullah bin Ali .setelah itu Ibrahim pun di penjarakan oleh Dinasti Ummayah  di Haran dan di eksekusi hukuman mati oleh Dinasti Ummayah.

        Penguasa Umayyah di Kufah,Yazid bin Umar bin Hubairah,di taklukan oleh Abbasiyah dan di usir ke Wasit.Abu Salamah selanjutnya berkemah di Kufah yang telah di taklukan pada tahun 132 H.Abdullah bin Ali,salah seorang paman Abul Abbas diperintahkan untuk mengajar khalifah Ummayah terakhir.Marwan bin Muhammad bersama pasukannya yang melarikan diri,Diana akhirnya dapat dipukul di dataran rendah Sungai Zab.Pengejaran dilanjutkan ke Mausul,Harran dan menyeberangi sungai Eufarat sampai ke Damaskus.Khalifah itu melarikan diri hingga ke Fustas Mesir,dan akhirnya terbunuh,Dengan demikian ,maka tumbanglah kekuasaan Dinasti ummayah,dan berdirilah Dinasti Abbasiyah yang dipimpin oleh khalifah pertamanya,yaitu Abul Abbas Ash-shaffah dengan berpusat di Kufah.[3] Ciri khas pada setiap gaya kepemimpinan para khalifah satu dengan khalifah yang lainya berbeda beda, hal ini perlu diketahui perbedaan perubahan untuk mendompleng dalam perubahan sosial, politik, ekonomi, pendidikan dan pertahanan.






              
3.     Pemerintahan bani Abbasiyah
a.  Berdasarkan pola pemerintahan, para sejarawan membagi masa    pemerintah Bani Abbas menjadi lima periode.
1)      Periode pertama (132 H /750 M – 232 H/847 M), disebut           periode pengaruh Persia pertama.
2)   Periode kedua (232 H/847 M – 334 H/945M), disebut masa periode pengaruh turki pertama.  
3)   Periode ketiga (334 H/ 945 M – 447 H/1055 M), masa periode  Persia kedua
4)   Periode keempat (447 H/1055 M – 590 H/1194 M) masa periode turki kedua
5)   Periode kelima (590 H/1194 M – 656 H/1258 M) masa periode bebas.[4]
Dalam periode pertama pemerintahan bani abbas berkembang pesat dalam bidang politik, karena pada masa itu para pemimpin yang adil dan bijak ikut serta dalam mengelola politik pemerintah, tidak hanya politik saja, filsafat dan ilmu pengetahuan juga mulai berkembang. Setelah periode Persia pertama berakhir, politik pemerintahan bani abbas mengalami kemerosotan. Namun dalam hal filsafat dan ilmu pengetahuan tetap berkembang.
Pada periode pertama pemerintah bani abbasiyah mencapai masa keemasaan di bawah pimpinan Al-Mahdi, Al-Hadi, Harun ar-Rasyid, Al-Makmun, Al-Muktasim, Al-Wasiq, dan Al-Mutawakkil..[5]


b.   Khalifah Dinasti Abbasiyah
Sistem Pemerintahan Dinasti Abbasiyah
1)      Abul Abbas Ash-Shaffah (750-754 M.)
Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah Abbas, khalifah pertama ayahnya adalah orang yang melakukan gerakan untuk mendirikan pemerintahan bani Abbasiyah dan menyebarkan kemana-mana. Pada masa pemerintahannya, saat pasukan Abbasiyah menguasai Khurasan, dia keluar dari persembunyian dan di baiat sebagai khalifah pada tahun 132 H/749 M. Setelah itu mengalahkan Marwan bin Muhammad dan menghancurkan pemerintahan bani Umayyah pada tahun yang sama. Pemerintahan yang ia pimpin berdasarkan tiga hal :
a)      Keluarganya sebab dia memiliki paman, saudara, dan anak-anak dalam jumlah besar. Mereka menyarahkan kepemimpinan wilayah kepadanya. Demikan juga dalam masalah nasihat dan musyawarah
b)      Abu Muslim Khurasan. Dia adalah  panglima perang yang sangat tangguh, dengan kekuatan dan tekatnya yang kokoh dia mampu menaklukkan Khurasan dan Iraq.
c)      Panathisme golongan,dia muncul pada akhir pemerintahan dan melemahya pemerintahan, peluang ini ditangkap manis oleh bani Abbasiyah  pada masa pemerintahan abu Abbas Ash-Shaffah disibukkan pada kosolidasi internal dan menguatkan pilar-pilar negara.

2)      Abu Ja’far Al Manshur (754-775 M)
Abu Ja’far al Manshur merupakan khalifah kedua bani Abbasiyah yang menggantikan saudaranya Abu Abbas ash Shafa. Yang pertama kali dilakaukan khalifah Abu Ja’far Al Manshur setelah dilantik menjadi khalifah adalah mengatur politik dan siasat pemerintahan Bani Abbasiyah. Jalur-jalur  pemerintahan ditata rapi dan cermat, sehingga pada masa pemerintahannya terjalin kerjasama yang erat antara pemerintahan pusat dan pemerintahan daerah.
Khalifah Abu Ja’far Al-Manshur sangat mewaspadai tiga kelompok yang menurutnya dapat menjadi batu sandungan bagi Bani Abbasiyah dan dirinya, kelopok itu adalah:
a)      Kelompok yang dipimpin oleh Abdullah bin Ali, paman Abu Ja’far. Pengikut Abdullah bn Ali sangat banyak serta berambisi untuk menjadi khalifah.
b)      Kelompok yang dipimpin oleh Abu Muslim Al-Khurasani
c)      Kalangan syiah yang di pimpin oleh pendukung berat keturunan Ali bin Abi Thalib.
3)      Muhammad Al-Hadi
Muhammad Al-Mahdi Ibnu Mansur, dilantik sebagai khalifah sesuai dengan wasiat ayahnya pada tahun 158 M/774 M. Dia dikenal sebagai seorang yang dermawan dan pemurah. Pada masa pemerintahannya, kondisi pada saat itu sangat stabil, dan tidak ada satu gerakan penting dan signifikan di masanya.
4)      Musa Al-Hadi
Musa Al Hadi bin Muhammad Al Hadi dilantik sebagai khalifah setelah ayahnya. Pada masa itu terjadi pemberontakan oleh Husein bin Ali Ibnul Hasan bin Ali di Madinah. Dia mengingkan agar pemeritahan ada di tangannya. Namun Al Hadi mampu menaklukannya dalam perang Fakh pada tahun 169 H/ 785 M. Pada saat yang sama juga Yahya bin Abdullah juga melakukan pemberontakan di Dailam. Al Hadi memberangkatkan Ar Rasyid sampai Yahya bin Abdullah mampu di taklukkan.
5)      Harun Al Rasyid
Harun ArRasyid Ibnu Mahdi, dia merupakan mutiara sejarah Bani Abbasiyah. Pada masa pemerintahannya islam mengalami puncak kemegahan dan kesejahteraan yang belum pernah dicapai sebelumnya. Harun Ar Rasyid dikenal sebagai sosok yang berani. Dia melakukan penyerbuan dan penaklukan negeri romawi pada saat baru berumur 20 tahun.
6)      Muhammad Al-Amin
Muhammad Al-Amin bin Harun Ar Rasyid diberi kekuasaan di Irak, namun salah seorang mentri Al Amin yang mendorongnya untuk mencopot posisi putera mahkota dari adiknya dan memberikannya kepada anaknya yang bernama Musa. Al Amin termakan tipuan ini ,dan Al Amin segera memberontak. Pada tahun 195 H/ 810 M, Al Amin mengirimkan dua pasukan untuk memerangi saudaranya, namun berhasil di hancurkan oleh Tharir bin Husein, panglima perang Al Makmun. Al Amin sendiri di kenal sebagai seorang yang suka berfoya-foya serta banyak melalaikan urusan Negara.
7)      Abdullah Al Makmum
Abdullah Al Makmum bin Harun ArRasyid. Pada masa pemerintahannya banyak peristiwa penting yang terjadi, pertama adalah pemberontakan Baghdad dan pengukuhan Ibrahim al-Mahdi sebagai khalifah. Kedua al Khuramiyah dan ketiga adanya fitnah bahwa al Quran adalah Makhluk. Penaklukan – penklukan pada masa pemerinthan sangat terbatas. Dia hanya mampu menaklukan Laz, sebuah tempat di Dailam pada tahun 202 H/817 M.
8)      Abu Ishaq al Mu’tashim
Peristiwa penting yang ada pada zaman pemerintahan Abu Ishaq Al-Mu’tashim adalah gerakan Babik al Khuramiy. Penaklukkan yang dilakukan oleh Abu Ishaq al Mu’tashim adalah penaklukkan al Muriyah, yang mana hanya perbuatan yang melampaui batas. Abu Ishaq al Mu’tashim menjabat pemerintahan selama 9 tahun.
9)      Harun al Watsiq
Harun bin Muhammad al Mu’tashim menjadi khalifah setelah ayahnya al Mu’tashim, pada tahun 227 H/841 M. Panglima-panglima turki pada masanya mencapai posisi yang sangat terhormat. Bahkan, Asynas mendapatka ngelar “Sultan” dari al-Watsiq. Al Watsiq menjabat pemerintahan selama 5 tahun.



10)  Ja’far al Mutawakkil
Ja’far al Mutawakkil adalah salah seorang yang melarang dengan keras pendapat yang menetapkan al Qur’an adalah Makhluk. Pada masa pemerintahannya orang-orang Romawi melakukan penyerangan Dimyat, Mesir. Peristiwa initer jadi pada tahun 238H./852 M. al Mutawakkil dibunuh anaknya yang bernama al’Muntashir pada tahun 247 H.

Sebelum Abdul Abbas Ash-Shaffah meninggal, ia sudah mewasiatkan siapa penggantinya, yaitu saudaranya, Abu Ja’far , Kemudian Isa bin Musa, keponakannya. Sistem pengumukan putra mahkota itu mengikuti cara Dinasti Umayyah. Para khalifah Bani Abbasiyah berjumlah 37 khalifah, mereka adalah:[6]
1.      Abdul Abbas As-Shaffah (Pendiri)                                    749-754 M
2.      Abu Ja’far Al-Manshur                                           754-775 M
3.      Abu Abdullah Muhammad Al-Mahdi                    775-785 M
4.      Abu Muhammad Musa Al-Hadi                             785-786 M
5.      Abu Ja’far Harun Ar-Rosyid                                  786-809 M
6.      Abu Musa Muhammad Al-Amin                            809-813 M
7.      Abu Ja’far Abdullah Al-Ma’mun                            813-833 M
8.      Abu Ishaq Muhammad Al-Mu’tashim                    833-842 M
9.      Abu Ja’far Harun Al-Wastiq                                   842-847 M
10.  Abu Fadl Ja’far Al-Mutawakil                                847-861 M
11.  Abu Ja’far Muhammad Al-Muntashir                     861-862 M
12.  Abu Abbas Ahmad Al-Musta’in                             862-866 M
13.  Abu Abdullah Muhammad  Al-Mu’taz                  866-869 M
14.  Abu Ishaq Muhammad Al-Muhtadi                       869-870 M
15.  Abul Abbas Ahmad Al-Mu’tamid                          870-892 M
16.  Abul Abbas Ahmad Al-Mu’tadid                           892-902 M     
17.  Abul Muhammad Ali Al-Muktafi                           902-905 M
18.  Abu Fadl Ja’far Al-Muqtadir                                  905-932 M
19.  Abu Manshur Muhammad Al-Qohir                       932-934 M
20.  Abul Abbas Ahmad Ar-Radi                                  934-940 M
21.  Abu Ishaq Ibrahim Al-Muttaqi                               940-944 M
22.  Abul Qasim Abdullah Al-Mustaqfi                                    944-946 M
23.  Abul Qasim Al-Fadl Al-Mu’ti                                946-974 M
24.  Abul Fadl Abdul-Karim Al-Thai                            974-991 M
25.  Abdul Abbas Ahmad Al-Qadir                              991-1031 M
26.  Abu Ja’far Abdullah Al-Qaim                                1031-1075 M
27.  Abul Qasim Abdullah Al-Muqtadi                         1075-1094 M
28.  Abul Abbas Ahmad Al-Mustadzir                          1094-1118 M
29.  Abu Manshur Al-Fdl Al-Mustarsyid                      1118-1135 M
30.  Abu Ja’far Al-Manshur Ar-Rasyid                         1135-1136 M
31.  Abu Abdullah Muhammad Al-Muqtafi                  1136-1160 M
32.  Abul Mudzafar Al-Mustanjid                                 1160-1170 M
33.  Abu Muhammad Al-Hasan Al-Mustadi                 1170-1180 M
34.  Abu Abbas Ahmad An-Nasir                                 1180-1225 M
35.  Abu Nasr Muhammad Az-Zahir                             1225-1226 M
36.  Abu Ja’far Al-Mansur Al-Muntashir                       1226-1242 M
37.  Abu Ahmad Abdullah Al-Mu’tashim Billah          1242-1258 M
Dinasti Abbasiyah, seperti halnya dinasti yang lain dalam sejarah islam, mencapai masa kejayaan politik dan intelektual mereka setelah didirikan. Kekhalifaan Baghdad yang didirikan oleh As-Saffah dan Al-Manshur mencapai masa keemasan antara masa khalifah ketiga, Al-Mahdi, dan khalifah kesembilan, Al-Wastiq, dan lebih khusus lagi pada masa Harun Ar-Rasyid dan anaknya., Al-Ma’mun. Karena kehebatan dua khalifah itulah, Dinasti Abbasiyah memiliki kesan baik dalam inggatan publik, dan menjadi dinasti paling terkenal dalam sejarah islam.[7] Dari berbagai uraian tersebut jika kita mengetahui lebih rinci maka disetiap pemimpin mempunyai pencapaian kemajuan berbeda beda dalam hal sosial, politik, dan budaya.
C.   Ekspansi bani Abbasiyah
           Salah satu keunikan dari pemerintahan bani Abassiyah yaitu dibentuknya suatu susunan kepemimpinan, mulai dari menteri, gubernur dan tentara. Sehingga dapat menstabilkan pemerintahan untuk mencakup segala bidang.
Khususnya pada periode pertama bermula dari khalifah Al-Mansyur yang berkeinginan menstabilkan Negara yang baru dirintis, beliau memindahkan ibu kota Negara ke kota Bagdad, dekat dengan bekas ibu kota Persia. Maka pusat pemerintahan bani Abbasiyah terletak di tengah - tengah Persia.
Perluasan wilayah pertama dilakukan oleh Khalifah al-Mansyur, beliau berusaha menaklukan kembali daerah daerah yang sebelumnya membebaskan diri dari pemeritahan pusat, dan menetapkan keamanan di daerah perbatasan. Diantara usaha usaha tersebut beliau telah berhasil merebut berbagai benteng di Asia, kota Malatia, wilayah Coppadocia dan Cicilia pada tahun 756-758 M.[8] Al-Mansyur mengklaim bahwa beliau menganggap dirinya sebagai khalifah yang mendapat mandat langsung dari Allah,

untuk itu dalam sebuah proses pemerintah yang beliau kerjakan tidak lepas dari dasar dasar ajaran agama islam.
D.   Masa kejayaan bani Abbasiyah  
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, peradaban dan kebudayaan islam tumbuh dan berkembang, bahkan mencapai kejayaan pada masa dinasti Abbasiyah. Hal  tersebut  dikarenakan dinasti Abbasiyah lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada perluasan wilayah.[9]
Dalam hal ini berbagai prospek kemajuan dalam bidang sosial, politik, budaya dan ilmu pengetahuan menjadikan sebuah  tanda masa kejayaan peradaban islam pada masa pemerintahan bani Abbasiyah, dengan dipimpin oleh khalifah yang tegas, adil dan agamis. Dapat memperkokoh suatu pemerintahan yang dapat mengguncang peradaban kehidupan islam sepanjang masa, perlu diketahui pemerintahan bani abbasiyah adalah pemerintahan yang paling lama berkuasa setelah Khulafaur Rasyidin berakhir.
Pemerintahan bani Abbasiyah telah meraih kemajuan diantaranya dalam bidang Agama, pengetahuan, ekonomi, pertahanan, seni budaya, dan melahirkan para ilmuwan ilmuwan islam yang hebat pada masa itu, hampir semua bidang telah ditekuni hingga mencapai prestasi-prestasi yang gemilang.  

1.     Ilmu Agama
Kemajuan ilmu agama pada pemerintahan bani Abbasiyah telah berkembang pesat sehingga banyak pengetahuan baru yang didapat pada masa itu, ilmu agama tidak terlepas dari sumber utama yaitu Al-Quran.
a.                  Ilmu tafsir
Ilmu metode tafsir pada masa bani Abbasiyah telah
berkembang sehingga muncul metode metode baru yaitu,
metode tafsir bi al-ra’yi yaitu metode tafsir dengan menggunakan akal, dan tafsir bi al-ma’tsur yaitu metode tafsir dengan menggunakan hadist nabi Muhammad.
a.      Ilmu hadist
Dalam bidang ilmu hadist para sahabat berusaha untuk mengelompokkan kekuatan isi hadist, sehingga terciptanya hadist dhaif, maudlu, shahih, dan lain lain.
b.       Ilmu fiqih
Dalam bidang ini, didalam islam muncul 4 madzab yaitu:
Madzab Hanafi
Madzab Maliki
Madzab Syafi’i
Madzab Hambali
c.       Ilmu kalam
Ilmu ini membahas tentang kajian yang berisi dosa, pahala, surga dan neraka serta perdebatan tentang ketuhanan atau tauhid yang bisa menghasilkan suatu ilmu, yaitu ilmu kalam atau teologi. Diantara tokoh ilmu kalam, sebagai berikut:
1)      Imam Abu hasan al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi. (tokoh Asy’ariyah).
2)      Wasil bin Atha’ dan Abu Huzail al-Allaf (tokoh Mu’tazilah).
3)      Al Juba’i.7 [10]

2.      Ilmu pengetahuan dan filsafat
Khalifah al-Mutawakkil mendirikan sekolah tinggi untuk penerjemah pada tahun 856 M, inilah cikal bakal lahirnya ilmu pengetahuan pada masa bani Abbasiyah. Berbagai ilmu pengetahuan umum masuk ke dalam Islam berasal dari yunani dan Persia dan diterjemahkan dalam bahasa arab. Dengan kegiatan penerjemahan tersebut karangan ilmuwan non muslim seperti Aristoteles, Plato, Galen, dan karangan kedokteran lainya dapat dipelajari oleh kaum muslim. Dalam berkembangnya ilmu pengetahuan ini sering disebut dengan abad keemasan pada tahun 900-1100 Masehi.
Ilmu pengetahuan tersebut membahas tentang kajian dalam bidang filsafat, kedokteran, farmasi, astronomi, geografi, matematika, sejarah dan sastra.
3.      Bidang ekonomi dan pertanian
Ekonomi pemerintahan bani Abbasiyah di dompleng dari sektor perdagangan. Ada pula berbagai industri berkembang pada saat itu. Seperti indutri kain linen dari mesir, kain sutra dari Syria dan irak, dan industri kertas dari Samarkand, pengelolahan pemerintahan yang sistematis sehingga berimbas pada keadaan ekonomi masyarakat bani Abbasiyah secara otomatis menimbulkan urbanisasi di perkotaan pusat pemerintahan.
Dalam bidang pertanian kaya akan hasil perkebunan kurma dan gandum. Pada masa khalifah al-Mahdi perekonomian di dominasi oleh sektor pertanian, sistem irigasi digunakan untuk strategi pertanian pada masa itu. Tidak hanya sektor pertanian dalam bidang petambangan juga berkembang dengan menghasilkan perak, emas, tembaga,  dan besi. Dengan kemajuan ekonomi yang pesat kota Basrah menjadi pelabuhan penting karena digunakan para pedagang timur dan barat untuk transit.
4.      Militer
Di sebuah Negara yang maju dan gigih mempertahankan kekuasaan wilayahnya, pemerintahan bani Abbasiyah mempunyai sistem pertahanan yang kuat sehinggadibentuklah angkatan perang yang berada dibawah komando diwan aljund dan terdiri dari angkatan darat dan angkatan laut. Keduanya terdiri dari :
a.       Al-Jundul Murtaziqah, yaitu tentara yang digaji tetap dan tinggal di asrama.
b.      Al-Jundul Mutha’uwiah, yaitu semaca milisi[11] 
Pada masa pemerintahan bani Abbasiyah pertahanan Negara menggunakan sistem militer untuk keamanan, hanya terdapat dua angkatan perang,darat dan laut. Angkatan perang ini juga diberi gaji sesuai dengan pangkat dan usahanya.

5.      Pendidikan
Negara yang mulai maju seperti bani Abbasiyah awalnya merintis dunia pendidikan dengan membangun tempat menimba ilmu seperti ma’had karena pada saat itu belum ada sekolah, adapun tempat tempatnya yaitu ;
a.       Kutta, yaitu lembaga pendidikan tingkat dasar yang sudah ada sejak zaman nabi Muhammad saw. Di tempat ini para murid diajarkan menulis dan membaca, kemudian berkembang menjadi ilmu agama.
b.      Halaqah, yaitu model pendidikan dimana guru duduk dikelilingi murid muridnya.
c.       Masjid dalam sejarahnya bukan hanya tempat shalat tetapi juga tempat untuk menuntut ilmu. Lembaga pendidikan di dalam masjid tersebar di berbagai provinsi wilayah islam.
d.      Majlis Munandharah, yaitu tempat majlis pertemuan para ulama sarjana, ahli piker, pujangga untuk membahas masalah masalah- ilmiah.
e.       Baitul hikmah, yang didirikan oleh Harun al-Arrasyid dan kemudian disempurnakan oleh khalifah Makmun, baitul Hikmah adalah perpustakaan terbesar, yang disediakan pula ruang tempat belajar.[12]   
Dengan jelas diketahui bahwa berbagai lembaga pendidikan di masa pemerintahan bani Abbasiyah sangat berkembang pesat dan melahirkan ilmuwan ilmuwan muslim yang cerdas dengan demikian dapat mengharumkan nama islam di sepanjang sejarah.

6.     Seni budaya
Dalam suatu peradaban tidak terlepas dari seni budaya, di setiap wilayah wilayah khususnya bani Abbasiyah banyak kesenian yang didapat. Mulai dari seni ukir, pahat, patung dan sebagainya. Tidak hanya itu jauh sebelum islam berkembang kaum jahiliyah sudah mengenal dengan seni qosidah, khitobah, amtsal, dan lainya. Pada dasarnya Agama islam adalah agama yang luwes dan terbuka, agama yang dapat menerima kebudayaan kebudaayan yang baru untuk menuju kearah kebaikan. Hal inilah yang digunakan para sahabat untuk menyebarkan syiar islam salah satunya menyisipkan ajaran islam lewat kesenian.
Diantara kemajuan dalam bidang sosial budaya adalah terjadinya proses alkulturasi dan asimilasi masyarakat. Kemajuan di bidang sosial dan budaya pada masa Dinasti Abbasiyah adalah seni bangunan dan arsitektur. Seni arsitektur yang dipakai dalam pembangunan istana dan kota-kota, seperti pada istana Qashrul dzahabi, dan Qashrul Khuldi, sementara bangunan kota seperti pembangunan kota Baghdad, Samarra, dan lain-lainnya. Pada masa Dinasti Abbasiyah budayawan yang terkenal adalah, Abu Nawas, Abu Athahiyah, Al-Muttanaby, Abdullah bin Mukhaffa, dll.
Di bidang musik yang karyanya yang masih di pakai adalah Yunus bin Sulaiman, Khalil bin Ahmad, pecinta teori musik islam, Al-farabi, dan lain-lainnya.

E.   Ilmuwan Muslim   
1.     Filsafat
Kajian filsafat berada pada puncaknya terletak pada pemerintahan bani Abbasiyah, bermula dari kegiatan menerjemahkan filsafat yunani ke dalam bahasa arab. Kegiatan ini melahirkan imuwan ilmuwan muslim diantaranya:
a.       Al-Khindi (811-874)
Beliau dikenal dengan filsuf muslim pertama yang mengarang sekitar 236 kitab tentang ilmu mantik, filsafat, handasah, hisab, musik, nujum, dan lain-lain. Diantara karya beliau yaitu Kimiyatul Itri, Risalah fi faslin, Risalah Fi illat an-Nafs ad-Damm, dan lain-lain.
b.      Al-Farabi (870-950)        
Filsuf ini terkenal setelah masa filsuf al-Khindi. beliau lahir di Farab dan wafat di kota Damaskus. Diantara karya beliau yaitu Tahsilus Sa’adah, Assiyasatul Madaniyah, Tanbih ala Sabilis Sa’adah, dan Lain lain
c.       Ibnu Sina (980- 1037 M)
Ibnu Sina lahir di Afsyanah, Bukhara, pada tahun 980 M, dan wafat di Hamdan pada tahun 1037 M. beliau adalah seorang dokter dan filsuf ternama. Ibnu Sina meninggalkan karyanya sebanyak 200 buah. Di antara karyanya sebanyak 200 buah. Diantara karya filsafatnya adalah Al-Isyarat wa at-Tanbihat, Mantiq al-Masriqiyyin, dan lain-lain.
d.      Ibnu Bajjah (453-523 H)
Ibnu Bajjah terkenal dengan karya karyanya yaitu kitab filsafat antara lain Tadbirrul Mutawahhid, Fi an-Nafs, dan Risalatul Ittisal.
e.       Ibnu Rusyd (529-595 H)
Ibnu Rusyd lahir di kota Kordoba pada tahun 1058 M, dan wafat pada tahun 1111 M. di antara karyanya beliau yaitu Mabadiul Falasifah, Tahafutut Tahafut, Kulliyan, dan Lain lain.
f.       Ibnu Thufail (225-287 H)
Ibnu Thufail termasuk salah satu murid Ibnu Bajjah. Di antara karyanya adalah Hayy bin Yaqzan.
g.      Al-Ghazali (1058-1111 M)
Al-Ghazali terkenal dengan karyanya yaitu Tahafutul Falasifah, Ar-Risalatul Qudsiyah, dan Ihya’ Ulumuddin.

2.      Ilmu Kedokteran
Pada masa bani Abbasiyah ilmu kedokteran berkembang sangat cepat sehingga banyak rumah sakit dan sekolah kedokteran yang didirikan. Di antara ahli kedokteran yang ternama pada saat itu ialah:
a.       Abu Zakariya Yahya bin Mesuwaih beliau wafat pada tahun 242 H. beliau adalah seorang Ahli farmasi di rumah sakit Junshapur, Iran
b.      Abu bakar ar-Razi dikenal dengan Ghalien Arab. Beliau adalah orang pertama yang membedakan cacar dan measles, sekaligus penulis buku kedokteran anak.
c.       Ibnu Sina, karya yang terkenal adalah AlQanun fi ath-Thib tentang teori dan praktik ilmu kedokteran, serta pengaruh obat-obatan dalam bahasa eropa dikenal dengan Canon of Medicine.

3.      Matematika
Tokoh terkenal dalam bidang matematika muslim pertama yaitu Al Khawarizmi. Beliau menciptakan angka nol. Kitab beliau yang terkenal yaitu Al-Jabbar wal Muqabalah. Tokoh lainya yaitu Abu al-Wafa yang terkenal sebagai ahli ilmu matematika.

4.      Farmasi
Ahli Farmasi pada dinasti Abbasiyah yaitu adalah ibnu Baithar, karyanya yang terkenal yaitu Al-Mughni (mengupas tentang obat-obatan) serta Jami al-Mufradat al-Mufradhat al-Adawiyah ( mengkaji tentang obat-obatan dan makanan bergizi)
5.      Ilmu astronomi
1)      Abu Mansyur al-Falaki (wafat pada tahun 272 H). Karyanya yang terkenal adalah isbat al-Ulum dan Hayat al-Falak.
2)      Jabir al-Battani (isbawafat pada tahun 272 H). ia adalah pencipta teropong bintang pertama. Karyanya  yang terkenal adalah kitab Ma’rifat Mathil Buruj Baina Arbai al-Falak.
3)      Raihan al-Bairuni (wafat pada tahun 440 H). karyanya adalah At-Tafhim Li Awal as-Sina at-Tanjim.[13]

6.      Geografi 
       Dalam bidang geografi , umat islam tergolong sangat maju sebab sejak awal bangsa arab merupakan bangsa pedagang yang biasa menempuh jarak jauh untuk berniaga, diantara wilayah pengembaraan adalah Tiongkok dan Indonesia pada masa-masa awal kemunculan Islam. Berikut adalah ahli geografi pada masa bani Abbasiyah:
1)   Abu hasan al-Masudi, beliau adalah seorang penjelajah yang mengadakan perjalanan ke Persia, India, Sri Lanka, dan Tiongkok, sekaligus penulis buku berjudul Muruj az-Zahab wa Ma’adin al-Juwahir.
2)      Ibnu Khurdazabah,  beliau berasal dari Persia, yang dianggap sebagai ahli geografi Islam tertua dengan karya kitab yang terkenal yaitu Masalik wa al-Mamalik.

3)      Ahmad el-Ya’kub, beliau pernah mengadakan perjalanan menjelajahi Armenia, Iran, India, Mesir, dan Magribi, sekaligus menulis buku berjudul Al-Buldan.
4)      Abu Muhammad al-Hasan al-Hamdani, karyanya yang berjudul Sifatu Jazirah al-arab.
7.      Sejarah
            Pada masa dinasti Abbasiyah, muncul tokoh-tokoh sejarah, di antaranya ialah Ahmad bn Ya’kubi (wafat pada tahun 895 M), dengan karyanya berjudul Al-Buldan (negeri-negeri) dan at-Tharikh (sejarah).

8.      Sastra
               Bagdad adalah kota pusat yang banyakmelahirkan seniman dan     sastrawan, adapun tokoh-tokohnya ;
1)     Abu Nawas. Ia termasuk salah satu penyair terkenal,  dengan cerita humornya
2)       An-Nsyasi. Beliau adalah penulis cerita yang biasa kita   sebut seribu satu malam, yang dikenal didalam bahasa arab yaitu Lailah wa lailah. Cerita ini sangat mendunia karena diterjemahkan hamper seluruh dunia[14]



F.     Kemunduran Bani Abbbasiyah
         Berbagai faktor pemicu keruntuhan pemerintahan bani Abbasiyah yaitu terjadi akibat factor eksternal dan internal.

1.      Factor eksternal
a.       Kemerosotan ekonomi salah satu pemicu kemunduran bani abbasiyah , salah satunya yaitu Negara mengalami deficit yang menyebabkan keungan Negara menjadi sulit.
b.       Persaingan antarbangsa, sejak dinasti abbasiyah berdiri kecenderungan persaingan antarbangsa sangat mencolok. Hal ini terjadi karena sejatinya sebuah pemerintahan selalu haus akan wilayah kekuasaan.
c.       Konflik keagamaan, berbagai paham aliran agama bermunculan pada masa dinasti abbasiyah seperti paham Mu’tazilah, syiah, Ahlu Sunnah dan lain-lain. Hal ini menyebabkan pemerintah sulit untuk menyatukan berbagai paham dalam keagamaan.
d.      Ancaman dari luar, hal ini terjadi karena peristiwa perang salib dan serangan tentara mongol yang berimbas pada kekuatan pemerintahan bani Abbasiyah.
2.      Factor internal  
a.       Kecenderungan kehidupan mewah dan berfoya-foya para pemimpin yang dapat    menyebabkan masyarakat menjadi miskin
b.      Praktis korupsi pada oleh penguasa diiringi munculnya nepotisme yang tidak profesional di berbagai wilayah
c.       Muncul nya penguasa penguasa yang lemah, yang memetingkan kepentingan pribadi dan keluarga.  tidak seperti penguasa yang terdahulu yang mengutamakan kemajuan sosial, politik, dan budaya.



Daftar Pustaka

Aizid  Rizem, sejarah peradaban islam terlengkap, (Jogyakarta: Diva press,                                    2015)
Al-Isy Yusuf, dinasti Abbasiyah, (Jakarta timur: penerbit: pustaka alkautsar,     2007)
Amin syamsul munir, sejarah peradaban islam (jakarta: Amzah, 2009)
Dedi Supriyadi,Sejarah Peradapan Islam,(Bandung: Pustak Setia,2008)
Hasjmi A., sejarah kebudayaan islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1993)
Samsul Munir Amin, Sejarah Peradapan Islam,( Jakarta: Amzah, 2014)
 Yatim Badri, sejarah peradaban islam II, (Jakarta: PT raja grafindo       persada, 2000)











[1] Yusuf Al-Isy, dinasti Abbasiyah, (Jakarta timur: penerbit: pustaka alkautsar, 2007),h. 12
[2] Badri Yatim, sejarah peradaban islam II, (Jakarta: PT raja grafindo persada, 2000) h. 49
[3]  Samsul Munir Amin,sejarah peradaban islam,(Jakarta:AMZAH2013), hal139
[4] Badri Yatim, sejarah peradaban islam II, hlm.49
[5] Rizem Aizid, sejarah peradaban islam terlengkap, (Jogyakarta: Diva press, 2015), h. 274
[6] Drs.Samsul Munir Amin, Sejarah Peradapan Islam,(Jakarta: AMZAH,2013), hlm.141

[7] Dedi Supriyadi,Sejarah Peradapan Islam,(Bandung: Pustak Setia,2008),hlm.129
[8] 7Badri Yatim, sejarah peradaban islam II…,51 
[9] Syamsul Munir Amin, sejarah peradaban islam (jakarta: Amzah, 2009), h. 144.

[10] Rizem Aizid, sejarah peradaban islam terlengkap..., 284

[11] A.Hasjmi, sejarah kebudayaan islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1993),h. 232

[12] Fadil Sj, Pasang  Surut  Peradaban  Islam  Dalam  Lintas  Sejarah, (Malang: UIN Malang Press, 2008), h.193-195

[13] Rizem Aizid, sejarah peradaban islam terlengkap…,  288-290 

[14] Rizem Aizid, sejarah peradaban islam terlengkap…,  288-290 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

QS. Al-A’raf :164 Pendidikan Sebagai Bentuk Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Pendidikan Sebagai   Bentuk Amar Ma’ruf Nahi Munkar (With guns, you can kill terrorist; with education you can kill terrorism) Malala ...