PENDIDIKAN
ISLAM ZAMAN UMAYYAH
A. Asal-Usul
Pendidikan Islam Zaman Umayyah
Pendidikan islam terjadi bemula
ketika nabi Muhammad diangkat menjadi Rasul. Beliau menerima wahyu kemudian
disampaikan kepada keluarga sahabat dan seluruh umat. Metode yang digunakan
yaitu ceramah, kemudian berdiskusi memecahkan masalah dan adanya tanya jawab.
Dahulu nabi Muhammad pun mengajar dengan sangat sederhana dimulai berceramah di
lingkup keluarga, perseorangan, secara sembunyi-sembunyi dan kemudian secara
terang-terangan.
Setelah beliau wafat kepemimpinan digantikan oleh Khulafaur Rasyidin pada periode ini pendidikan islam mulai berkembang, terbukti dengan adannya tempat pendidikan yang layak, seperti madrasah-madrasah. Serta perluasan wilayah islam sebagai faktor penunjang akan meluasnya pendidikan dalam peradaban islam. Setelah periode Khulafaur Rasyidin berakhir, maka kepemimpinan islam digantikan oleh Bani Umayyah.
Didalam peradaban islam Bani
Umayyah menjadi cikal bakal kemajuan pendidikan islam karena pada dasarnya awal
mula ilmuwan islam yang hebat ada pada zaman ini, Percatuan politik dan
gerakan-gerakan militer yang terjadi pada masa ini, baik dalam usaha perluasan
wilayah islam maupun dalam menghadapi pemberontakan-pemberontakan, menimbulkan
pertumbuhan dan perkembangan dalam bidang alam pikiran.[1]
ciri kepemimpinannya yaitu memprioritaskan perluasan wilayah dan memperkuat
pasukan militernya. Dengan sikap penuh toleransi khalifah Umayyah
memperkerjakan orang non muslim yang sangat cakap dibidang pemerintahan demi
kemajuan kerajaan. Pada zaman
pemerintahan Umayyah ini terdapat dua metode pembelajaran, yaitu pendidikan
umum dan pendidikan khusus. Yang membedakan adalah kurikulumnya. Pendidikan
khusus diperuntukkan bagi anak-anak raja yang di istana, yang menetukan
kurikulumnya adalah orang tua dan guru. Otoritasnya mengacu untuk pembelajaran
tanggung jawab kecakapan dalam memimpin sebuah kerajaan jika anak mereka sudah
dewasa. Sedangkan pendidikan umum dipakai untuk kalangan masyarakat umum.
Mereka mempelajari Al-Qur’an dan hadist serta ilmu agama lainnya. Yang
menentukan kurikulum hanyalah guru. Guru yang dimaksud dalam zaman ini adalah
para ulama. Ulama bertanggung jawab untuk mendidik serta memberikan bimbingan, dan
menjamin kelancaran jalannya suatu mutu pendidikan. Mereka mendedikasikan
hidupnya untuk mengajar bukan karena pangkat atau gaji melainkan mengharap
ridho Allah semata. Bila kita bandingkan
dari dua metode pendidikan tersebut maka
yang pertama bertujuan untuk kepentingan politik, yang kedua bertujuan untuk
memperoleh ilmu pengetahuandan hakekat ilmu agama yang yang sesungguhnya.
Para khalifah Bani Umayyah telah
banyak menggali dan berhasil meraih banyak keuntungan dari kecakapan
penduduknya tanpa memperdulikan asal kebangsaan dan agama mereka. Dengan proses
asimilasi pengetahuan, sosial dan kebudayaan daerah taklukan. Pendidikan cepat
berkembang. Banyak orang non muslim kemudian masuk agama islam menjadikan
mereka akan haus ilmu pengetahuan karena ingin memperdalam ilmu agama, terutama
Al-Quran dan Hadist. Tidak hanya ilmu agama saja yang dipelajari, namun ilmu
kedokteran, ilmu astronomi, ilmu hitung, ilmu kesenian dan sastra tak luput
pada zaman Ini. hal tersebut menyebabkan
adanya kemajuan yang signifikan terutama dalam fasilitas pendidikan. Dimasa ini
terdapat pendidikan non formal maupun formal. Pendidikan non formal meliputi
pendidikan di kuttab, masji, maupun pendidikan keluarga sedangkan pendidikan
formal seperti madrasah dan universitas.
B. Tempat
pendidikan
Ada dua jenis pendidikan pada saat
itu pendidikan non formal dan non formal, antara lain yaitu :
a. Pendidikan
Keluarga
Pendidikan islam mulai dilakukan
dalam lingkup keluarga seperti yang pernah diajarkan nabi Muhammad dahulu.
Karena tanpa kita sadari kurikulum pertama bagi anak-anak adalah
pengalaman-pengalaman yang dialami dan disaksikan sendiri dalam lingkungan
rumahnya, seperti hubungan sikap antara anak dengan orang tua dan orang seisi
rumah. Hal tersebut merupakan proses sikap dalam suatu pendidikan karena adanya
pebentukan watak, mental, dan tanggap terhadap lingkungan
b. Kuttab
Kuttab adalah sejenis tempat
belajar yang bermula-mula lahir di dunia islam.[2]
Kuttab berfungsi sebagai tempat belajar membaca dan menulis tulisan arab. Jauh
sebelum agama islam masuk sebenarnya kuttab sudah ada namun namanya tidak
begitu dikenal oleh masyarakat.[3]
Pada awalnya bentuk kuttab hanya sebuah ruangan di rumah seorang guru. Namun
dengan meluasnya wilayah islam maka bertambah pula penduduk yang masuk islam
untuk menimba ilmu sehingga kuttab di dalam rumah guru terbatas. Dengan
inisiatif orang tua murid mencari tempat yang lebih luas untuk menampung ribuan
murid maka terdapat kuttab dibalik bilik masjid. Adapun pembagian waktu mata pelajaran
tiap-tiap hari dibagi tiga. Pertama, pelajaran Al-Quran dari pagi hari sampai
dengan waktu Dhuha. Kedua, pelajaran menulis dari waktu dhuha sampai waktu
zuhur, setelah itu anak-anak diperbolehkan pulang ke rumahnya masing-masing
untuk makan siang. Ketiga, pelajaran ilmu yang lain (nahwu, bahasa arab, syair,
berhitung, riwayat, atau tarikh) dimulai setelah zuhur sampai akhir siang
(ashar).[4] Pada
akhir abad pertengahan hijriyah muncul jenis kuttab yang fungsinya tidak hanya
belajar ilmu agama tetapi ilmu pengetahuan dasar yang bersifat formal.
c. Masjid
Pendidikan
di dalam masjid menggambarkan pendidikan yang berpinsip sangat sederhana, dalam
hal dasar dan tujuan maupun organisasinya. Tujuan pembelajaran di masjid pada
dasarnya seimbang, yakni mempelajari ilmu dunia dan akhirat. Pendidikan yang
dilakukan didalam masjid menggunakan dana swa sembada masyarakat sendiri. Dalam
masjid terdapat dua tingkat sekolah, yang pertama tingkat menengah dan yang
kedua tingkat perguruan tinggi. Bagi tingkat menengah materi yang dipelajari
yaitu ilmu fiqih, hadist, dan ilmu
Al-Quran beserta tafsirnya. Sedangkan tingkat perguruan tinggi
mempelajari Al-Quran, tafsir, hadist, fiqih dan syariat islam. Pembelajaran di
masjid menggunakan prinsip persamaan karena tidak membedakan status ekonomi
murid.
d. Majelis
Sastra
Majlis sastra adalah perkembangan
dari masjid yang biasa dilakukan oleh para khulafaur Rasyidin bersama para
sahabat lainya untuk bermusyawarah dan berdiskusi untuk memecahkan suatu
masalah. Dalam forum ini para sahabat bebas menggunakan hak untuk berpendapat,
mengkritik, dan memberi saran. Majlis musyawah yang dulunya sangat sederhana
baik tempat maupun permasalahannya yang dibicangkan dan secara teknisi mulai
berkembang. Majlis dilakukan dalam istana dan undangan tamu tidak sembarangan
yang dipilih oleh khalifah sendiri. Majlis sastra ini dapat dikatakan sebagai
pembahasan situasi politik dan maju mundurnya pemerintahan beserta pengembangan
ilmu pengetahuan.
e. Universitas
Di Iran terdapat sekolah tinggi
kedokteran Jundeshapur, bagian Barat Persia. Sekolah ini mempunyai dasar ilmu
kedokteran Yunani dan Iran, guru-gurunya terdiri dari orang Iran, Syiria dan Yunani.
Ilmu pengetahuan dari bahasa Yunani telah diterjemahkan ke dalam bahasa Syiria
dan Pahlevi sejak abad ke-5.[5]
Ilmu kedokteran sebenarnya sudah ada pada zaman khalifah Umayyah, meskipun
belum populer pada masa inilah ilmu kedokteran berkembang pesat. Ketika
ekspansi wilayah islam menyebar ke Spanyol, disana terdapat pusat ilmu
pengetahuan di Universitas Cordova yang memiliki berbagai fakultas yaitu,
fakultas astromi, fakultas kedokteran, fakultas hukum, fakultas ilmu ukur.
C. Ilmuwan
Muslim
1. Didalam
bidang filasafat yaitu :
a. Al-Khindi
(811-874)
Abu yusuf ya’qub Ibn Ishaq Ibn
shabah bin imran bin bin ismail bin muhammad bin al-asy’ats ibn qais al-kindi.[6] Beliau
dikenal dengan filsuf muslim pertama yang mengarang sekitar 236 kitab tentang
ilmu mantik, filsafat, handasah, hisab, musik, nujum, dan lain-lain. Diantara
karya beliau yaitu Kimiyatul Itri, Risalah fi faslin, Risalah Fi illat an-Nafs
ad-Damm, dan lain-lain.
b.
Al-Farabi (870-950)
Filsuf ini terkenal setelah masa
filsuf al-Khindi. beliau lahir di Farab dan wafat di kota Damaskus. Diantara
karya beliau yaitu Tahsilus Sa’adah, Assiyasatul Madaniyah, Tanbih ala Sabilis
Sa’adah, dan Lain lain.
c. Ibnu
Sina (980- 1037 M)
Ibnu Sina lahir di Afsyanah,
Bukhara, pada tahun 980 M, dan wafat di Hamdan pada tahun 1037 M. beliau adalah
seorang dokter dan filsuf ternama. Ibnu Sina meninggalkan karyanya sebanyak 200
buah. Di antara karyanya sebanyak 200 buah. Diantara karya filsafatnya adalah
Al-Isyarat wa at-Tanbihat, Mantiq al-Masriqiyyin, dan lain-lain.
2. Dalam bidang fiqih yaitu: Imam Hanafi, Imam
Maliki, Imam Syafi’i, Imam Hambali.
3. Dalam bidang astronomi yaitu :
Abu Ubaidah Muslim, Abu Al Qasim Ibn
Abbas.
4. Dalam bidang kedokteran: Ahmad ibn Iyas al
Qurtubhi, Al-Harrani, Abu Al-qasim
al-Zahrawi.
5. Dalam bidang Sejarah : Yahya Ibn
Hakam, Muhammad Ibn Musa Al Razi,Uraib Ibn Saad.
D. Faktor
Kemajuan Pendidikan Islam Pada Zaman Bani Umayyah
1. Sikap toleransi Khalifah Umayyah yang tinggi
pada zaman Umayyah menjadi khalifah
beliau banyak menggunakan orang kristen dalam jabatan-jabatan pemerintahan
untuk kemajuan suatu sistem pemerintahan, hal ini dikarenakan beliau memiliki
sikap toleransi yang tinggi mempekerjakan orang kristen yang cakap demi
kemaslahatan umat. Dengan begitu Khalifah Umayyah meraih keuntungan dari
kecakapan penduduknya tanpa memperdulikan agama dan kebangsaannya. Dari masa ke
masa banyak orang kristen tersebut yang masuk islam kemudian ingin memperdalam
ilmu tentang agama islam.
2. Perluasan
wilayah kekuasaan islam
Sudah kita ketauhi bahwa ciri khas
pemerintahan Bani Umayyah adalah ekspansi wilayah. Dengan demikian banyak
daerah takhlukan yang menjadikan islam semakin berkembang pesat dalam hal ilmu
pendidikan, sosial dan budaya dengan menggunakan sistem asimilasi atau
pertukaran.
3. Motivasi masyarakat yang tinggi
Rasa haus kaum muslimin terhadap
ilmu pengetahuan jelas nampak dalam usahanya mengembangkan ilmu pengetahuan,
agama, dan budaya. Sarana pendidikan juga menunjukkan kemajuan yang lebih baik
dari tahun ke tahun. Usaha dan ketekunan kaum muslim yang ikhlas dalam kegiatan
mengembangkan kehidupan intelektualnya telah berpedoman sesuai dengan ajaran
agama islam, agar manusia membuka kemerdekaan berfikirnya.
Daftar
Pustaka
Ensiklopedia
Islam 3. 1994. Jakarta: PT ichtiar Baru Van Hocve
Kadir Abd. 2016.
Dirasah Islamiyah. Sidoarjo: Dwiputra Pustaka Jaya
Soekarno.1983.
Sejarah Dan Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Angkasa
Suwito. 2005. Sejarah
Sosial Pendidikan Islam. Jakarta:
Kencana
Yunus
Mahmud. 1990. Sejarah pendidikan Islam. jakarta: Hidakarya Agung
[1] Soekarno, Sejarah Dan Filsafat
Pendidikan Islam (Bandung: Angkasa, 1983),
hal. 71
[2] Ensiklopedia Islam 3 (Jakarta:
PT ichtiar Baru Van Hocve, 1994), hal. 870
[3] Suwito, Sejarah Sosial
Pendidikan Islam (Jakarta: Kencana, 2005), hal.12
[4] Mahmud Yunus, Sejarah pendidikan
Islam (jakarta : Hidakarya Agung
1990), hal. 51
[5] Suwito, Sejarah Sosial
Pendidikan Islam, hal. 85
[6] Abd. Kadir, Dirasah Islamiyah
(Sidoarjo: Dwiputra Pustaka Jaya), hal. 365
Tidak ada komentar:
Posting Komentar