Sabtu, 10 Maret 2018

MAKALAH PENDIDIKAN ISLAM ZAMAN UMAYYAH





PENDIDIKAN ISLAM ZAMAN UMAYYAH

A.    Asal-Usul Pendidikan Islam Zaman Umayyah

Pendidikan islam terjadi bemula ketika nabi Muhammad diangkat menjadi Rasul. Beliau menerima wahyu kemudian disampaikan kepada keluarga sahabat dan seluruh umat. Metode yang digunakan yaitu ceramah, kemudian berdiskusi memecahkan masalah dan adanya tanya jawab. Dahulu nabi Muhammad pun mengajar dengan sangat sederhana dimulai berceramah di lingkup keluarga, perseorangan, secara sembunyi-sembunyi dan kemudian secara terang-terangan.

Setelah beliau wafat kepemimpinan digantikan oleh Khulafaur Rasyidin pada periode ini pendidikan islam mulai berkembang, terbukti dengan adannya tempat pendidikan yang layak, seperti madrasah-madrasah. Serta perluasan wilayah islam sebagai faktor penunjang akan meluasnya  pendidikan dalam peradaban islam. Setelah periode Khulafaur Rasyidin berakhir, maka kepemimpinan islam digantikan oleh Bani Umayyah.
Didalam peradaban islam Bani Umayyah menjadi cikal bakal kemajuan pendidikan islam karena pada dasarnya awal mula ilmuwan islam yang hebat ada pada zaman ini, Percatuan politik dan gerakan-gerakan militer yang terjadi pada masa ini, baik dalam usaha perluasan wilayah islam maupun dalam menghadapi pemberontakan-pemberontakan, menimbulkan pertumbuhan dan perkembangan dalam bidang alam pikiran.[1] ciri kepemimpinannya yaitu memprioritaskan perluasan wilayah dan memperkuat pasukan militernya. Dengan sikap penuh toleransi khalifah Umayyah memperkerjakan orang non muslim yang sangat cakap dibidang pemerintahan demi kemajuan kerajaan.  Pada zaman pemerintahan Umayyah ini terdapat dua metode pembelajaran, yaitu pendidikan umum dan pendidikan khusus. Yang membedakan adalah kurikulumnya. Pendidikan khusus diperuntukkan bagi anak-anak raja yang di istana, yang menetukan kurikulumnya adalah orang tua dan guru. Otoritasnya mengacu untuk pembelajaran tanggung jawab kecakapan dalam memimpin sebuah kerajaan jika anak mereka sudah dewasa. Sedangkan pendidikan umum dipakai untuk kalangan masyarakat umum. Mereka mempelajari Al-Qur’an dan hadist serta ilmu agama lainnya. Yang menentukan kurikulum hanyalah guru. Guru yang dimaksud dalam zaman ini adalah para ulama. Ulama bertanggung jawab untuk mendidik serta memberikan bimbingan, dan menjamin kelancaran jalannya suatu mutu pendidikan. Mereka mendedikasikan hidupnya untuk mengajar bukan karena pangkat atau gaji melainkan mengharap ridho Allah semata.  Bila kita bandingkan dari dua metode pendidikan tersebut  maka yang pertama bertujuan untuk kepentingan politik, yang kedua bertujuan untuk memperoleh ilmu pengetahuandan hakekat ilmu agama yang yang sesungguhnya.
Para khalifah Bani Umayyah telah banyak menggali dan berhasil meraih banyak keuntungan dari kecakapan penduduknya tanpa memperdulikan asal kebangsaan dan agama mereka. Dengan proses asimilasi pengetahuan, sosial dan kebudayaan daerah taklukan. Pendidikan cepat berkembang. Banyak orang non muslim kemudian masuk agama islam menjadikan mereka akan haus ilmu pengetahuan karena ingin memperdalam ilmu agama, terutama Al-Quran dan Hadist. Tidak hanya ilmu agama saja yang dipelajari, namun ilmu kedokteran, ilmu astronomi, ilmu hitung, ilmu kesenian dan sastra tak luput pada zaman  Ini. hal tersebut menyebabkan adanya kemajuan yang signifikan terutama dalam fasilitas pendidikan. Dimasa ini terdapat pendidikan non formal maupun formal. Pendidikan non formal meliputi pendidikan di kuttab, masji, maupun pendidikan keluarga sedangkan pendidikan formal seperti madrasah dan  universitas.
B.     Tempat pendidikan
Ada dua jenis pendidikan pada saat itu pendidikan non formal dan non formal, antara lain yaitu :
a.    Pendidikan Keluarga
Pendidikan islam mulai dilakukan dalam lingkup keluarga seperti yang pernah diajarkan nabi Muhammad dahulu. Karena tanpa kita sadari kurikulum pertama bagi anak-anak adalah pengalaman-pengalaman yang dialami dan disaksikan sendiri dalam lingkungan rumahnya, seperti hubungan sikap antara anak dengan orang tua dan orang seisi rumah. Hal tersebut merupakan proses sikap dalam suatu pendidikan karena adanya pebentukan watak, mental, dan tanggap terhadap lingkungan
b.    Kuttab
Kuttab adalah sejenis tempat belajar yang bermula-mula lahir di dunia islam.[2] Kuttab berfungsi sebagai tempat belajar membaca dan menulis tulisan arab. Jauh sebelum agama islam masuk sebenarnya kuttab sudah ada namun namanya tidak begitu dikenal oleh masyarakat.[3] Pada awalnya bentuk kuttab hanya sebuah ruangan di rumah seorang guru. Namun dengan meluasnya wilayah islam maka bertambah pula penduduk yang masuk islam untuk menimba ilmu sehingga kuttab di dalam rumah guru terbatas. Dengan inisiatif orang tua murid mencari tempat yang lebih luas untuk menampung ribuan murid maka terdapat kuttab dibalik bilik masjid. Adapun pembagian waktu mata pelajaran tiap-tiap hari dibagi tiga. Pertama, pelajaran Al-Quran dari pagi hari sampai dengan waktu Dhuha. Kedua, pelajaran menulis dari waktu dhuha sampai waktu zuhur, setelah itu anak-anak diperbolehkan pulang ke rumahnya masing-masing untuk makan siang. Ketiga, pelajaran ilmu yang lain (nahwu, bahasa arab, syair, berhitung, riwayat, atau tarikh) dimulai setelah zuhur sampai akhir siang (ashar).[4] Pada akhir abad pertengahan hijriyah muncul jenis kuttab yang fungsinya tidak hanya belajar ilmu agama tetapi ilmu pengetahuan dasar yang bersifat formal.
c.    Masjid
Pendidikan di dalam masjid menggambarkan pendidikan yang berpinsip sangat sederhana, dalam hal dasar dan tujuan maupun organisasinya. Tujuan pembelajaran di masjid pada dasarnya seimbang, yakni mempelajari ilmu dunia dan akhirat. Pendidikan yang dilakukan didalam masjid menggunakan dana swa sembada masyarakat sendiri. Dalam masjid terdapat dua tingkat sekolah, yang pertama tingkat menengah dan yang kedua tingkat perguruan tinggi. Bagi tingkat menengah materi yang dipelajari yaitu ilmu fiqih, hadist, dan ilmu  Al-Quran beserta tafsirnya. Sedangkan tingkat perguruan tinggi mempelajari Al-Quran, tafsir, hadist, fiqih dan syariat islam. Pembelajaran di masjid menggunakan prinsip persamaan karena tidak membedakan status ekonomi murid.

d.      Majelis Sastra
Majlis sastra adalah perkembangan dari masjid yang biasa dilakukan oleh para khulafaur Rasyidin bersama para sahabat lainya untuk bermusyawarah dan berdiskusi untuk memecahkan suatu masalah. Dalam forum ini para sahabat bebas menggunakan hak untuk berpendapat, mengkritik, dan memberi saran. Majlis musyawah yang dulunya sangat sederhana baik tempat maupun permasalahannya yang dibicangkan dan secara teknisi mulai berkembang. Majlis dilakukan dalam istana dan undangan tamu tidak sembarangan yang dipilih oleh khalifah sendiri. Majlis sastra ini dapat dikatakan sebagai pembahasan situasi politik dan maju mundurnya pemerintahan beserta pengembangan ilmu pengetahuan.
e.       Universitas
Di Iran terdapat sekolah tinggi kedokteran Jundeshapur, bagian Barat Persia. Sekolah ini mempunyai dasar ilmu kedokteran Yunani dan Iran, guru-gurunya terdiri dari orang Iran, Syiria dan Yunani. Ilmu pengetahuan dari bahasa Yunani telah diterjemahkan ke dalam bahasa Syiria dan Pahlevi sejak abad ke-5.[5] Ilmu kedokteran sebenarnya sudah ada pada zaman khalifah Umayyah, meskipun belum populer pada masa inilah ilmu kedokteran berkembang pesat. Ketika ekspansi wilayah islam menyebar ke Spanyol, disana terdapat pusat ilmu pengetahuan di Universitas Cordova yang memiliki berbagai fakultas yaitu, fakultas astromi, fakultas kedokteran, fakultas hukum, fakultas ilmu ukur.
C.     Ilmuwan Muslim
1.    Didalam bidang filasafat yaitu :
a.    Al-Khindi (811-874)
Abu yusuf ya’qub Ibn Ishaq Ibn shabah bin imran bin bin ismail bin muhammad bin al-asy’ats ibn qais al-kindi.[6] Beliau dikenal dengan filsuf muslim pertama yang mengarang sekitar 236 kitab tentang ilmu mantik, filsafat, handasah, hisab, musik, nujum, dan lain-lain. Diantara karya beliau yaitu Kimiyatul Itri, Risalah fi faslin, Risalah Fi illat an-Nafs ad-Damm, dan lain-lain.
b. Al-Farabi (870-950)           
Filsuf ini terkenal setelah masa filsuf al-Khindi. beliau lahir di Farab dan wafat di kota Damaskus. Diantara karya beliau yaitu Tahsilus Sa’adah, Assiyasatul Madaniyah, Tanbih ala Sabilis Sa’adah, dan Lain lain.
c.       Ibnu Sina (980- 1037 M)
Ibnu Sina lahir di Afsyanah, Bukhara, pada tahun 980 M, dan wafat di Hamdan pada tahun 1037 M. beliau adalah seorang dokter dan filsuf ternama. Ibnu Sina meninggalkan karyanya sebanyak 200 buah. Di antara karyanya sebanyak 200 buah. Diantara karya filsafatnya adalah Al-Isyarat wa at-Tanbihat, Mantiq al-Masriqiyyin, dan lain-lain.
         2. Dalam bidang fiqih yaitu: Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, Imam Hambali.
           3. Dalam bidang astronomi yaitu : Abu Ubaidah Muslim, Abu Al  Qasim Ibn Abbas.
 4. Dalam bidang kedokteran: Ahmad ibn Iyas al Qurtubhi, Al-Harrani, Abu  Al-qasim al-Zahrawi.
      5. Dalam bidang Sejarah : Yahya Ibn Hakam, Muhammad Ibn Musa Al Razi,Uraib Ibn Saad.



D.    Faktor Kemajuan Pendidikan Islam Pada Zaman Bani Umayyah

1.       Sikap toleransi Khalifah Umayyah yang tinggi
pada zaman Umayyah menjadi khalifah beliau banyak menggunakan orang kristen dalam jabatan-jabatan pemerintahan untuk kemajuan suatu sistem pemerintahan, hal ini dikarenakan beliau memiliki sikap toleransi yang tinggi mempekerjakan orang kristen yang cakap demi kemaslahatan umat. Dengan begitu Khalifah Umayyah meraih keuntungan dari kecakapan penduduknya tanpa memperdulikan agama dan kebangsaannya. Dari masa ke masa banyak orang kristen tersebut yang masuk islam kemudian ingin memperdalam ilmu tentang agama islam.

2.      Perluasan wilayah kekuasaan islam
Sudah kita ketauhi bahwa ciri khas pemerintahan Bani Umayyah adalah ekspansi wilayah. Dengan demikian banyak daerah takhlukan yang menjadikan islam semakin berkembang pesat dalam hal ilmu pendidikan, sosial dan budaya dengan menggunakan sistem asimilasi atau pertukaran.
      3.  Motivasi masyarakat yang tinggi
Rasa haus kaum muslimin terhadap ilmu pengetahuan jelas nampak dalam usahanya mengembangkan ilmu pengetahuan, agama, dan budaya. Sarana pendidikan juga menunjukkan kemajuan yang lebih baik dari tahun ke tahun. Usaha dan ketekunan kaum muslim yang ikhlas dalam kegiatan mengembangkan kehidupan intelektualnya telah berpedoman sesuai dengan ajaran agama islam, agar manusia membuka kemerdekaan berfikirnya.



Daftar Pustaka
Ensiklopedia Islam 3. 1994. Jakarta: PT ichtiar Baru Van Hocve
Kadir Abd. 2016. Dirasah Islamiyah. Sidoarjo: Dwiputra Pustaka Jaya
Soekarno.1983. Sejarah Dan Filsafat Pendidikan Islam. Bandung:     Angkasa
Suwito. 2005. Sejarah Sosial Pendidikan Islam.  Jakarta: Kencana
Yunus Mahmud. 1990. Sejarah pendidikan Islam. jakarta: Hidakarya Agung



[1] Soekarno, Sejarah Dan Filsafat Pendidikan Islam (Bandung: Angkasa, 1983),  hal. 71
[2] Ensiklopedia Islam 3 (Jakarta: PT ichtiar Baru Van Hocve, 1994), hal. 870
[3] Suwito, Sejarah Sosial Pendidikan Islam (Jakarta: Kencana, 2005), hal.12
[4] Mahmud Yunus, Sejarah pendidikan Islam (jakarta : Hidakarya Agung  1990), hal. 51
[5] Suwito, Sejarah Sosial Pendidikan Islam, hal. 85
[6] Abd. Kadir, Dirasah Islamiyah (Sidoarjo: Dwiputra Pustaka Jaya), hal. 365

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

QS. Al-A’raf :164 Pendidikan Sebagai Bentuk Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Pendidikan Sebagai   Bentuk Amar Ma’ruf Nahi Munkar (With guns, you can kill terrorist; with education you can kill terrorism) Malala ...